Dalam amanatnya, dia menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia yang diraih adalah buah dari persatuan, perjuangan seluruh rakyat Indonesia, dari berbagai latar belakang agama, suku, dan etnis.
Menurut Gus Yaqut, sapaan akrabnya, walaupun bangsa Indonesia berbeda-beda, tapi bangsa ini sejatinya adalah sama.
"Ayo kita Gelorakan bahwa kita ini sama, sama Indonesia-nya. Kita Ini sama bahasanya, Bahasa Indonesia. Lagu kebangsaan kita sama, lagu Indonesia Raya, Bendera kita ini sama Merah Putih-nya. Karena, kita ini sama terlahir di tanah Indonesia, sama minum air Indonesia, sama menghirup udara Indonesia, dan kita Ini sama akan mati dan dikubur di bumi Indonesia," serunya, seperti dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Redaksi.
Karena itulah dia menekankan pentingnya persatuan. Karena jika terpecah belah, berjuang sendiri-sendiri, maka Indonesia akan mudah dijajah.
"Sebab itu, ketika kita bersatu, berjuang bersama-sama, kita merdeka. Benar apa yang telah diingatkan kiai kita, KH Wahab Hasbullah bahwa "Tidak Ada Senjata yang Lebih Tajam dan Lebih Sempurna Lagi Selain Persatuan"," katanya.
Selanjutnya dia mengatakan, bangsa Indonesia perlu mensyukuri banyak kemajuan-kemajuan yang telah diraih. Namun sebagaimana diakui sendiri oleh Presiden Republik Indonesia dalam pidatonya kemarin bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia belum sepenuhnya bisa diwujudkan.
"Kita lihat memang kesenjangan ekonomi masih lebar, buah dari keserakahan dan korupsi di masa lalu hingga saat ini. Jumlah rakyat miskin juga masih banyak, sementara penguasaan aset dan kekayaan hanya beredar di sejumlah kecil orang dan korporasi. Jaminan masyarakat mendapatkan keadilan hukum juga sering terlukai," tandasnya.
Dalam kondisi ini, pihaknya menuntut negara bisa mencegah keserakahan dan korupsi terus terjadi. "Kita menuntut negara segera mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dengan sungguh-sungguh," katanya.
Gus Yaqut mengatakan, selain masalah keadilan sosial yang harus segera diwujudkan, saat ini bangsa Indonesia tengah menghadapi ancaman persatuan nasional.
Setiap hari masyarakat disodori isu dan ujaran-ujaran yang berusaha memecah belah bangsa. Kiai-kiai disudutkan agar umat tergerus rasa hormatnya pada ulama.
Ia menambahkan, tradisi lokal juga disesatkan agar masyarakat kehilangan identitas, pemerintah dihujat tiap saat agar rakyat tidak lagi percaya, etnis tertentu dijadikan biang keladi masalah agar sesama anak bangsa saling curiga, serta nasionalisme dan Islam dihadap-hadapkan sehingga rakyat digiring untuk tidak mencintai negerinya sendiri.
Gus Yaqut mengingatkan, bangsa Indonesia wajib bersyukur telah diwarisi Pancasila sebagai kalimatun sawa', konsensus yang mengikat bangsa yang majemuk ini dalam kesamaan tujuan dan cita-cita.
Menurut dia, kemajemukan bangsa ini adalah kenyataan. Semua perbedaan adalah sunnatullah. "Tugas kita sebagai hamba Allah dan kader bangsa adalah mencari persamaan-persamaan dan titik temu agar bisa bekerja sama menghadapi tantangan masa depan dan mampu mewujudkan cita-cita kemerdekaan," tandasnya.
[wah]
BERITA TERKAIT: