"Kalau mau bicara organisasi, kita lihat bagaimana anda berorganisasi? Kebinekaan dan radikalisme. Bagaimana caranya kita bisa meng-organize, kalau kita tidak mampu memahami perbedaan. Karena setiap orang berbeda. Bahkan, (anak) kembar pun pasti tidak sama," kata Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani dalam paparan pada acara Simposium Nasional di Balai Kartini, Jakarta, Senin (14/8).
Indonesia, lanjutnya, bisa menjadi sebuah negara yang berdaya saing tinggi. Namun, Indonesia juga harus menjadi sebuah institusi yang baik dan berintegritas. Termasuk memiliki SDM yang memahami makna tentang perbedaan.
"Bagaimana bisa jadi negara yang kuat kalau kita tidak bisa memahami perbedaan dan meng-
organize perbedaan itu menjadi suatu
blessing. Itu adalah suatu tantangan," tuturnya.
Terkait institusi, hal inilah yang mendorong pemerintah untuk meningkatkan kemudahan berusaha sekaligus menjadi indikator kapabilitas suatu negara dalam mengurus rakyatnya. Selain itu, pemerintah seharusnya juga muncul sebagai solusi, bukan masalah.
"Leadership anda akan kelihatan dari organisasi yang anda pimpin. Ada organisasi yang leadernya kelihatannya keren, tapi organisasinya amburadul. Banyak. Kelihatan cuma keren satu sendirian. It's a loner, not a system builder," urai Menkeu.
Untuk itu, menurut dia, Indonesia sebagai suatu kesatuan harus bisa menjadi institusi yang berhubungan mengurangi kemiskinan, kesenjangan dan menciptakan kesempatan kerja bagi rakyatnya.
[wid]