Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Djayadi Hanan usai memaparkan survei terbaru SMRC di bilangan Jakarta, Kamis (8/6).
Menurut Djayadi, dukungan pada tokoh-tokoh yang dicalonkan menjadi presiden sebelum dan sesudah Pilkada DKI Jakarta masih stabil. Posisi petahana Joko Widodo masih membawahi Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.
Melalui pertanyaan terbuka, bila pemilihan presiden diadakan ketika survei dilakukan, sebanyak 34,1 persen pemilih spontan mendukung Jokowi. Adapun 17,2 persen mendukung Prabowo. Sementara, itu dalam simulasi head-to-head, elektabilitas Jokowi mencapai 53,7 persen, sedangkan Prabowo berada di level 37,2 persen. Adapun responden tidak menjawab sebanyak 9,1 persen.
"Jokowi tetap yang teratas, dan tetap diikuti Prabowo di posisi kedua, beda 16,5 persen. Dari sisi pilihan presiden, politik Tanah Air relatif tidak mengalami perubahan pasca-Pilkada DKI Jakarta," kata Djayadi.
Djayadi pun mengakui jika perbedaan elektabilitas antara Jokowi dan Prabowo saat ini hampir sama seperti perbedaan elektabilitas Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati pada tahun 2007, atau dua tahun sebelum pemilu presiden 2009.
"Saat itu perbedaan elektabilitas antara SBY dan Megawati sebesar 16 persen. Hampir sama dengan Jokowi dan Prabowo jelang dua tahun pilpres 2019," kata Djayadi.
Survei SMRC ini dilakukan pada 14-20 Mei 2017 dengan melibatkan 1.350 responden yang dipilih dengan teknik multistage random sampling dari total populasi nasional yang sudah memiliki hak pilih pemilihan umum. Margin of error survei ini rata-rata 2,5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
[san]
BERITA TERKAIT: