Ketua Badan Pemenangan Pemilu PKB Marwan Jafar mengatakan, isu keagamaan dan gelombang informasi digital harus dicermati secara mendalam. Terlebih, gelombang informasi digital dalam proses kampanye bisa membuat perbedaan pendapat yang berujung pada permusuhan.
"Kita dulu pernah baca buku Nietzsche katanya Tuhan telah mati, sekarang Tuhan hidup lagi. Kata Karl Marx agama sebagai candu, ya sekarang candu beneran. Jadi, ini membalikkan seluruh keadaan. Revolusi digital atau digital distraction memutarbalikkan keadaan. Teman di WA (WhatsApp) bisa berantem. Tapi bahwa digital keniscayaan, teknologi perlu kita manfaatkan karena dapat menjangkau dengan cepat di satu sisi," jelasnya dalam pembukaan Rakornas Lembaga Pemenangan Pemilu (LPP) di Kantor DPP PKB, Jalan Raden Saleh, Cikini, Jakarta (Sabtu, 29/4).
Marwan menilai bahwa fenomena keagamaan dan gelombang informasi secara kasat mata telah menutup fakta bahwa pertumbuhan ekonomi nasional yang ditargetkan 5,3 persen oleh pemerintah tidak tercapai. Bahkan, fakta bahwa daya beli masyarakat menurun tidak dibuat sebagai visi misi calon kepala daerah. Padahal masyarakat menengah ke bawah lebih terus merasakaan kesenjangan dan keadaan tingginya harga komoditi pangan.
"Oleh karena itu, PKB harus hadir temani masyarakat. Bersama rakyat untuk memastikan kebijakan kerakyatan kita kawal bersama-sama, sehingga kebijakan itu tidak berpihak kepada yang kuat tetapi berpihak ke yang lemah," tegas mantan menteri desa dan pembangunan daerah tertinggal tersebut.
[wah]
BERITA TERKAIT: