Di Semarang pada tahun 80an abad XX, saya memang kerap menyelenggarakan beberapa kegiatan antara lain Festival Ketahanan Berdiri Diam atau sebuah sepeda dikendarai sekaligus 19 orang yang diakui oleh GBR sebagai rekor-rekor dunia. Namun ketika saya mengajukan rekor Batik Terpanjang, Keris dengan Kelok Terbanyak, Tahu Terbesar atau Pergelaran Angklung dengan Pemain Terbanyak, ternyata semua ditolak mentah-mentah oleh GBR dengan alasan tidak kenal batik, keris, tahu atau angklung dan masyarakat dunia tidak tertarik kepada rekor kebudayaan Indonesia.
Kemudian ketika saya berkunjung ke Museum Guinness Book of Records di London yang menampilkan sebuah diorama prestasi Rekor-Dunia 19 orang (semuanya warga Indonesia) sekaligus naik sebuah sepeda menempuh jarak 300 meter yang dipecahkan di Semarang oleh tim Jago-Sport-Club, perasaan nasionalisme saya kembali terluka ketika melihat fakta 19 boneka naik satu sepeda itu kesemuanya ditampilkan dengan busana dan kuncir rambut gaya tradisonal Cina, dinasti Ching yang telah berakhir di awal abad ke XX setelah Masehi.
Padahal rekor dunia itu saya ciptakan di landasan pesawat terbang di A. Yani Semarang, Indonesia bersama 19 putera bangsa Indonesia pada tanggal 30 Juni 1988 menjelang akhir abad XX setelah Masehi.
Segenap ketidak-profesionalan GBR membuat saya tersadar bahwa pada hakikatnya memang keliru apabila dalam berupaya menghargai karsa dan karya bangsa sendiri, saya malah berkiblat ke bangsa asing. Ternyata saya masih mengidap penyakit inlander-complex warisan kaum penjajah agar bangsa Indonesia tetap tidak pernah merasa bangga atas karsa dan karya bangsa sendiri maka senantiasa bangga atas karsa dan karya bangsa asing!
Maka pada tanggal 27 Januari 1990 secara resmi atas dukungan perusahaan Jamu Jago, saya mendirikan Museum Rekor-Dunia Indonesia sebagai lembaga pencatat prestasi superlatif bangsa Indonesia sebagai gerakan Kebanggaan Nasional demi mengajak bangsa Indonesia untuk merasa bangga atas karsa dan karya terbaik puteri-puteri bangsa Indonesia sendiri.
Syukur Alhamdullilah, ternyata gelora Semangat Kebanggaan Nasional yang diemban MURI juga menular ke negara-negara ASEAN yang masing-masing kemudian mendirikan lembaga pencatatan rekor karsa dan karya bangsa masing-masing.
InsyaAllah, medio 2017 lembaga pencatatan rekor Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Myanmar, Filipina akan berkunjung ke MURI di Jakarta dan Semarang demi saling tukar pikiran, pengalaman dan semangat Kebanggaan Nasional dalam perjuangan menghormati dan menghargai karsa dan karya bukan bangsa asing namun bangsa diri sendiri masing-masing.
InsyaAllah, gelora semangat Kebanggaan Nasional akan mempersatupadukan bangsa-bangsa ASEAN demi bersama berjaya dalam menghadapi kemelut persaingan global yang sedang melanda planet bumi abad XXI.
[***]Penulis adalah penggagas Gerakan Kebanggaan Nasional dan pendiri MURI