Pemuda Muhammadiyah: Tangkal Hoax Dengan Kesalehan Berinformasi

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widian-vebriyanto-1'>WIDIAN VEBRIYANTO</a>
LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Jumat, 27 Januari 2017, 07:55 WIB
Pemuda Muhammadiyah: Tangkal Hoax Dengan Kesalehan Berinformasi
Iu Rusliana/Net
rmol news logo . Kesalehan berinformasi diperlukan di era informasi bohong atau hoax ramai diproduksi, mesin fitnah beroperasi secara masif, adu domba, hingga ujaran kebencian yang makin meluas. Dengan kesalehan berinformasi, masyarakat bisa menghindari diri dari adu domba yang sedang gencar dilakukan pihak-pihak tertentu

Begitu kata Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat Iu Rusliana saat menjadi narasumber Workshop Pendidikan dalam rangkaian acara Pelantikan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kuningan, di Kuningan, Jawa Barat, Kamis (26/1). Hadir dalam acara tersebut Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Iwa Karniwa sebagai pembicara kunci dan para pejabat pemerintah daerah Kuningan, MUI, tokoh masyarakat, pengurus Pimpinan Daerah Muhammadiyah, pemuda, dan ratusan guru se-Kuningan.

Dijelaskan Iu Rusliana, kesalehan berinformasi mengandung makna, sebuah kualitas kebaikan diri seorang muslim yang mampu menerima, bersikap kritis dengan menyaring, menilai, memutuskan apakah informasi itu sahih.

"Seorang yang memiliki kesalehan berinformasi mampu menahan diri untuk tidak membagikan sembarang informasi kepada pihak lain dan tidak terlibat dalam sengketa di ruang publik yang menyulut kepada konflik sosial yang luas," ujarnya dalam keterangan tertulisnya kepada Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu, Jumat (27/1).

Lebih lanjut Iu menukil surat Al-Hujurat ayat 6, yang memandu Islam dalam menyikapi informasi. Surat itu berbunyi:

Hai orang yang beriman, jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohanmu, yang akhirnya kamu menyesali perbuatan itu.”

Alquran telah memperingatkan situasi seperti ini dengan menggunakan istilah fasiq kepada orang yang menyebarluaskan berita bohong, mengakibatkan kerusakan, konflik dan keresahan sosial. Ciri orang fasiq itu antara lain melanggar perjanjian untuk bertauhid.

Alquran menjuluki fasiq kepada ahli kitab karena dalam wahyu sebelum Alquran diturunkan, telah disebutkan akan ada nabi dan rasul terakhir, yaitu Muhammad SAW, namun mereka mendustakannya. Ini ada dalam surah Ash-Shaff ayat 5,” jelasnya.

Ciri lain orang orang fasiq adalah menghancurkan ciptaan Allah, padahal diperintahkan untuk memeliharanya.

Mereka merusak tatanan kehidupan manusia maupun alam semesta. Orang Yahudi dan munafik disebut fasiq karena kerap membuat desas desus dan kerusuhan dalam masyarakat. Namun demikian, seperti yang diingatkan dalam surah An-Nur ayat 4, umat Islam pun dapat dijuluki fasiq, ketika menyebarluaskan fitnah,” tegasnya.

Agar terhindar dari sifat fasiq, harus dikembangkan sikap saleh berinformasi. Dosen Aqidah dan Filsafat Islam UIN Bandung tersebut menyatakan bahwa pada kondisi seperti ini, tak ada benteng pertahanan yang dapat diandalkan selain diri sendiri.

Area peperangannya sudah bukan lagi dalam bentuk sistem, tapi langsung head to head dengan setiap orang melalui ponsel pintarnya masing-masing,” katanya.

Iu Rusliana pun menyodorkan tiga cara mengembangkan kesalehan berinformasi. Pertama, jangan mudah percaya begitu saja setiap informasi yang diterima, apalagi langsung mengomentari dan bersikap.

Kedua, memeriksa dengan teliti referensi, rujukan, sumber berita dan apa yang diinformasikan. Dalam khazanah ilmu takhrij hadis, dikenal istilah sanad, rawi dan matan.

Ketiga, mampu menahan diri untuk menyebarkan semua informasi yang diterima. Sikap teliti dan diam bilamana belum tahu benar harus menjadi pilihan, agar terhindar dari kerusakan,” tegasnya. [ian]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA