Rachmawati Soekarnoputri Menerima Gelar Doktor Kehormatan Dari Korea Utara

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widian-vebriyanto-1'>WIDIAN VEBRIYANTO</a>
LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Kamis, 06 Oktober 2016, 18:01 WIB
Rachmawati Soekarnoputri Menerima Gelar Doktor Kehormatan Dari Korea Utara
Foto: RMOL
rmol news logo Tokoh nasional yang merupakan putri dari Proklamator Bung Karno, Rachmawati Soekarnoputri, menerima gelar Doktor Honoris Causa (DR. HC) dalam bidang ilmu politik dari pemerintahan Republik Demokratik Rakyat Korea.

Gelar ini diberikan berdasarkan keputusan Akademi Award Republik Demokratik Rakyat Korea tetanggal 3 Agustus 2016. Penganugerahan ini diserahkan secara langsung oleh Duta Besar Korea Utara, HE. An Kwang Il, di Hotel Park Lane, Jalan Casablanca, Jakarta, Kamis (6/10).

HE. An Kwang Il mengalungkan medali penghargaan kepada Rachmawati sebagai tanda bahwa pendiri Yayasan Pendidikan Soekarno itu resmi mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa. Setelah itu Rachmawati juga menerima piagam gelar kehormatan.

Dalam pidatonya, Rachmawati mengingatkan bahwa kolonialisme dan imperealisme telah tampil dalam wujud baru, baik di bidang politik, ekonomi, sosial maupun budaya. Perkembangan kolonialisme semakin cepat lantaran teknologi yang ada juga semakin canggih.

"Neokolonialisme is not dying yet. Nekolim hanya ganti kulit. Waspadalah dunia akan kembali memasuki the new era dari exploitation de nation par nation," ujar wanita yang akrab disapa Mbak Rachma itu.

Semangat ini, lanjutnya, sama seperti pemikiran Korea Utara yang anti neokolonialisme dan neoimperialisme. Sementara ayahnya, Bung Karno, telah menggagas perlawanan terhadap nekolim itu sejak mendirikan Konferensi Asia Afrika, Gerakan Non Blok, dan New Emerging Forces (Nefo).

"Itu juga menandai bahwa perjuangan bangsa Indonesia belum selesai melawan imperialis dan neokolonialisme. Korut konsisten melawan hegemoni imperialisme," ujarnya.

Rachma juga mengatakan, solusi keluar dari berbagai persoalan yang tengah dihadapi Indonesia adalah dengan mengembalikan konstitusi ke naskah asli UUD 1945.

"Perubahan konstitusi yang dilakukan empat kali di awal-awal Reformasi membuat peran negara menjadi lemah, dan di sisi lain memberi kesempatan kepada kapitalisme untuk berkuasa," kata Rachama lagi.

Sedangkan Dubes An Kwang Il menyebutkan bahwa Korea Utara dan Indonesia memiliki hubungan yang baik, terutama hubungan antar pendiri dua negara, yaitu Soekarno dan Kim Il Sung.

Diceritakan Kwang Il, bahwa dulu Soekarno pernah memberikan bunga anggrek bulan kepada Kim Il Sung. Saking sukanya dengan pemberian tersebut, Kim Il Sung menamakan bunga pemberian Soekarno tersebut sebagai Bunga Kim Il Sung.

Saat disinggung mengenai alasan Korea Utara memberikan gelar Doktor Honoris Causa kepada Mbak Rachma, An Kwang Il mengatakan bahwa Rachma memiliki kesamaan ide dengan Korut dalam melawan hegemoni nekolim. Rachma menjadi orang kedua setelah ayahnya yang mendapatkan gelar tersebut.

"Karena ide Rachmawati sama dengan Sukarno dalam melawan nekolim," tegas Dubes Korut. [ald]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA