6 Alasan Pencalonan Ahok Wajib Ditolak Versi Indonesia Bergerak

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Kamis, 08 September 2016, 07:55 WIB
6 Alasan Pencalonan Ahok Wajib Ditolak Versi Indonesia Bergerak
Foto: Indonesia Bergerak
rmol news logo Hampir dua tahun Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta. Bukannya menyelesaikan sederet persoalan Ibukota, kepemimpinan Ahok justru dipandang malah menyulut banyak persoalan bagi warga Jakarta.

Karena itu, sejumlah elemen masyarakat yang tergabung dalam Indonesia Bergerak menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat Ibukota tolak Ahok sebagai pemimpin warga Jakarta untuk kedua kalinya.

"Ahok bukanlah solusi bagi Ibukota tetapi petaka bagi warga Jakarta," kata Jurubicara Indonesia Bergerak, Jamal Hidayat melalui siaran persnya, pagi ini (Kamis, 8/7).

Ia menyebutkan, sedikitnya ada enam alasan Ahok yang juga mantan politisi Partai Gerindra itu wajib dan harus ditolak dicalonkan menjadi orang nomor satu di DKI.

Pertama, pemimpin minus etika. Rekam ingatan publik tak lupa bagaimana ketika Ahok memaki seorang ibu tua renta yang hendak mengeluhkan persoalan kepadanya. Belum lagi suguhan tayangan berisi umpatan dan sikap arogansi seorang Ahok.

"Bagi dia, bicara (maaf) tai, bajingan, brengsek, nenek lo, dan lain sebagainya adalah hal yang biasa. Apakah kita rela generasi muda disuguhkan teladan pemimpin seperti Ahok? Sementara kita adalah warga negara yang menjunjung tinggi nilai luhur ajaran agama dan budaya yang terkandung dalam Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika," paparnya.

Alasan kedua, Ahok adalah pemimpin anarkis terhadap rakyat kecil. Saat Pilgub DKI 2012 lalu, Jokowi-Ahok berjanji tidak akan melakukan penggusuran kepada masyarakat Jakarta. Faktanya, sampai dengan Agustus 2015 sebanyak 3.433 kepala keluarga sudah menjadi korban penggusuran Ahok dengan alasan menyelamatkan ruang terbuka hijau. Bahkan mayoritas dari penggusuran tersebut harus berakhir konflik fisik antara warga dengan perangkat aparat birokrat.

Di sisi lain, banyak bangunan elit dan megah seperti perumahan, apartemen dan pusat perbelanjaan yang diindikasi melanggar ruang terbuka hijau, tetapi tidak pernah sedikitpun ditertibkan oleh Ahok.

"Jelas, bahwa kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh Ahok hanya merugikan masyarakat kelas bawah tetapi tidak mampu menyentuh kalangan berduit. Ahok menjadikan Jakarta hanya untuk orang kaya dan tidak untuk si miskin," tegasnya.

Ketiga, Ahok pemimpin yang tak mampu membenahi Jakarta. Persoalan krusial di Jakarta adalah macet dan banjir. Harapan masyarakat kepada Ahok untuk membenahi dua persoalan besar ini sangat tinggi. Namun bukannya teratasi, menurut dia, kemacetan dan banjir di Jakarta pun semakin menggila.

Angkutan massal yang digembar-gemborkan juga tidak kunjung terbukti. Begitu pula untuk persoalan banjir. Bahkan jalan protokoler di kasawan Sudirman-Thamrin dan kawasan Kemang yang selama ini steril dari banjir, bisa berubah menjadi genangan parah saat hujan turun meski dengan intensitas tidak terlalu deras.

Keempat, pemimpin dengan sederet konflik. Bukan Ahok namanya kalau tidak melempar kesalahan orang lain. Hampir semua pihak pernah dijadikan kambing hitam oleh Ahok.

Jamal menjabarkan, ketika Jakarta banjir Ahok menyalahkan PLN, galian kabel, gubernur sebelumnya, anak buah, masyarakat, hingga tudingan sabotase pihak tertentu. Bahkan saat Jakarta terserang DBD pun, Ahok dengan lantang menyalahkan nyamuk dari Bekasi.

"Itulah Ahok, pemimpin yang suka mencari kambing hitam dan mengorbankan anak buah demi keselamatan citranya," kritiknya.

Kelima, pemimpin minus prestasi. Keberhasilan Ahok selama ini, ia menilai, hanya digembar-gemborkan oleh media massa pendukung dan pasukan sosmednya. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pernah merilis bahwa pengelolaan anggaran di DKI Jakarta era Ahok terindikasi terjadi penyimpangan dan gagal mendapat predikat wajar tanpa pengecualian.

Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) pun pernah merilis bahwa kinerja Pemprov DKI di bawah Ahok menempati peringkat ke 18 dengan predikat CC, kalah oleh Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan sejumlah provinsi lainnya.

Bahkan untuk persoalan serapan anggaran pun, DKI Jakarta memiliki peringkat kedua terburuk dari seluruh jumlah provinsi di Indonesia. Akibatnya, pembangunan dan belanja APDB DKI Jakarta pun banyak yang tidak mencapai target. Belum lagi persoalan rapor merah yang diberikan Kemendagri untuk kinerja Pemprov DKI di rezim Ahok.

Terakhir, menurut dia, Ahok adalah pemimpin yang munafik dan perkataannya sering bertentangan dengan perbuatan. Jamal pun mengingatkan, sewaktu menjadi anggota Komisi II DPR, Ahok pernah menghujat Wali Kota Tangerang Wahidin Halim karena telah menggusur masyarakat Cina Benteng. Namun setelah menjadi Gubernur DKI, Ahok melakukan hal yang sama bahkan lebih sadis.

Ahok juga pernah meminta Fauzi Bowo untuk cuti selama Pilkada DKI 2012 berlangsung, dan kini saat dia menjabat menolak cuti dan mengajukan permohonan ke Mahkamah Konstitusi. Ahok juga pernah menolak bila kepala daerah dipilih kembali oleh DPRD, tak lama kemudian Ahok melontarkan pernyataan sebaiknya Gubernur DKI Jakarta ditunjuk oleh presiden.

"Itulah enam alasan rasional dan kasat mata kenapa warga Jakarta perlu bersatu tidak memilih Ahok menjadi gubernur untuk kedua kalinya," terangnya.

Jamal menekankan, Jakarta adalah Ibukota dan cermin negara, tercipta untuk bersama dan bukan hanya untuk orang kaya.

"Karena itu, jangan sampai Jakarta dipimpin atau dikendalikan oleh pribadi yang mengedepankan emosi, bersikap diskriminasi, dan sarat kontroversi," kata Jamal.

Indonesia Bergerak sendiri terdiri dari kalangan pekerja, pedagang, mahasiswa, profesional muda, buruh, aktivis dan lain sebagainya. Menurut rencana, masssa Indonesia Bergerak akan menggelar aksi damai tolak Ahok di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, yang dimulai pukul 10.00 WIB pagi ini. [wid]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA