Konferensi Internasional Nostra AETATE

Melawan Hukum Alam

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ade-mulyana-1'>ADE MULYANA</a>
LAPORAN: ADE MULYANA
  • Senin, 09 November 2015, 20:30 WIB
Melawan Hukum Alam
rmol news logo Tanpa direncanakan, kehadiran Hermawi Franziskus Taslim dan AM Putut Prabantoro di Italia menandai datangnya musim gugur ‎(autumn), musim setelah panas (summer) dan sebelum musim salju atau dingin (winter).

Hermawi, Ketua Forum Komunikasi Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Indonesia (Forkoma PMKRI) dan Putu, ‎Ketua Gerakan Ekayastra Unmada atau Semangat Satu Bangsa, berkunjung ke Italia untuk menghadiri Konferensi Internasional di Universitas Gregoriana dalam perayaan peringatan 50 tahun diluncurkannya dokumen Nostra Aetate oleh mendiang Paus Paulus VI.

‎Nostra Aetate adalah dokumen independen Konsili Vatikan II yang menjelaskan keterbukaan Gereja Katolik dalam hubungannya dengan Agama Nonkristiani.‎

"‎Entah kebetulan atau tidak, kehadiran Pak Taslim dan Pak Putut menandai datangnya suatu masa dalam salah satu musim di Eropa. Masa itu ditandai dengan lamanya matahari terbit ataupun terbenam. Mulai nanti malam, Eropa dipercepat satu jam waktunya. Jika selisih waktu antara Italia dan Indonesia tadinya lima jam, mulai nanti malam selisihnya enam jam," ujar Romo Haryanto SCJ.

‎Hermawi dan Putut berada di Italia selama enam hari, dari tanggal 24-31 Oktober 2015.‎ Sementara Romo Haryanto adalah satu dari beberapa rohaniwan Indonesia yang sedang belajar di Italia yang menemani Hermawi dan Putut. Selain Romo Haryanto, ada juga Indro Pandego Pr (Pastor yang berasal dari Keuskupan Tanjung Karang) dan Romo Leo Agung Srie Gunawan SCJ (dua pastor yang berkarya di Lampung dan Sumatera Selatan).‎

Obrolan musim di Eropa ini terjadi saat mereka berada di depan gerbang Villa Aurelia yang terletak di Via Leone XIII, Roma. Perbincangan ‎waktu pun mengalir begitu saja. Terasa penting sebab bagi masyarakat bermusim empat termasuk Eropa, cuaca merupakan nadi kehidupan. ‎Menyetel jam atau alarm karena berbasis pada waktu yang salah akan memutus nadi kehidupan dan akan berakibat fatal (sial) bagi satu hari kehidupan orang tersebut.

‎Syukur-syukur hari sial itu hanya berlaku satu hari dan bisa diperbaiki ketika menyadari kesalahan yang dibuat. Tetapi tidak menutup kemungkinan kesialan bisa mengiringi yang bersangkutan sepanjang musim.

‎Oleh karena itu, perkiraan cuaca (bukan ramalan) merupakan budaya dan kehidupan itu sendiri bagi bangsa yang bermusim empat. Kapan harus pergi, ada ancaman cuaca apa, bagaimana harus mempersiapkan diri selalu didasarkan pada perkiraan cuaca. Dan perkiraan cuaca itu adalah budaya karena hal ini mempengaruhi cara dan apa yang diminum, yang dimakan, yang dikenakan dan transportasi apa yang akan digunakan. Cuaca dan suhu akan datang dengan sendirinya secara otomatis dan hukum ala mini tidak mengenal agama atau keyakinan. Semua warga apapun agama dan keyakinannya harus menyesuaikan diri dengan iklim, cuaca, suhu yang datang pada musimnya.

‎Meski berdiskusi berpanjang lebar, keempat warga asal Indonesia itu tidak menyinggung dua hal pokok yang selalu muncul dalam perbincangan soal iklim dan cuaca. Kedua pokok itu menyangkut soal ayam dan pawang.

‎"Kami tidak bicara soal apakah ada pawang atau tidak di Italia terkait dengan iklim. Di Indonesia pawang selalu hadir ketika kita akan mengadakan hajatan kawinan, kampanye, pidato terbuka, kunjungan jabatan dan lain-lainnya. Padahal pawang itu kalau mau dianalisa lebih lanjut berkaitan dengan melawan hukum alam. Ketika orang mau mengadakan hajatan, didatangkan pawang untuk menolak hujan sekalipun itu musim hujan. Ketika hujan tidak datang di musim kemarau yang panjang, seorang pawang akan didatangkan agar asap hilang," ujar Hermawi Taslim, yang juga Wakil Ketua Badan Advokasi Bantuan Hukum (BAHU) DPP Partai Nasdem.

‎Menurut Taslim, mungkin iklim di Indonesia itulah yang sebenarnya mengajarkan bagaimana seorang warga Indonesia melihat tanah air, bangsa dan negaranya. Kalau hukum alam saja dilawan oleh masyarakat Indonesia, demikian pengacara senior itu menjelaskan, tidak heran kalau hukum yang dibuat sendiri juga dilawan dan dibuat lumpuh bahkan oleh wakil rakyat sendiri. Karena terbiasa menantang hukum alam, tidak mengherankan pelanggaran atas sumpah jabatan terjadi terus.

‎"Kami juga tidak bicara soal ayam jantan kapan berkokok pertama kali di pagi hari jika waktunya dimajukan satu jam dari semula.  Kokok ayam pertama itu pukul 03.00 pagi di mana-mana karena mengikuti matahari dan itu hukum alam juga. Tetapi kalau manusia memajukan waktunya menjadi satu jam lebih cepat, apakah itu artinya, ayam juga memajukan waktu kokoknya satu jam lebih awal," ujar Putut Prabantoro yang berprofesi sebagai konsultan komunikasi.‎

Apakah ada pawang hujan atau tidak, Taslim dan Putut menyetujui untuk menyesuaikan arlojinya menjadi waktu yang berlaku di Eropa di musim gugur.‎[dem] ‎

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA