Begitu dalil Wakil Ketua MPR RI Mahyudin saat ditemui di gedung Nusantara III Senayan, Jakarta, Kamis (4/6).
"Kenapa citranya jelek? Seharusnya DPR membuat penataan lebih baik. Seperti masalah bangku kosong di rapat paripurna," ujarnya.
Menurutnya, jika agenda sidang tidak terlalu urgent maka tidak perlu diparipurnakan. Hal ini, lanjut Mahyudin, bertujuan untuk meminimalisir bangku kosong paripurna yang acapkali dipersepsikan ke publik sebagai dewan pemalas.
"Kalau tidak urgent untuk diparipurnakan maka tidak usah diparipurnakan. Sidang paripurna itu tidak akan penuh kalau tidak sesuai keperluan. Tapi kalau keperluannya urgent, pasti penuh untuk datang membahas," ujarnya.
Ia mencontohkan, penutupan atau pembukaan masa sidang yang saat ini turut diparipurnakan. Menurutnya, sidang itu tidak memiliki urgensi mendesak yang mengharuskan semua anggota dewan hadir.
"Penutupan dan pembukaan massa sidang nggak perlu disidangkan. Apa urgensinya? orang kan malas dengar pidato pimpinan," sambung politisi Golkar itu.
Untuk itu, Mahyudin mengimbau kepada Baleg untuk mampu menentukan sidang-sidang yang penting diparipurnakan agar citra DPR tidak hilang. Selain itu, DPR juga harus punya target menghasilkan UU dalam setahun. Jika ada DPR produktif maka urusan absensi menjadi urutan ke sekian.
"Ini bukan dalam rangka membangun citra DPR, tapi cuma memperlihatkan yang sebenarnya ke publik. DPR kalau rapat sampai malam itu tidak pernah diberitakan lho. Sehingga citra baik itu berlalu gitu aja," tandasnya.
[wid]
BERITA TERKAIT: