Pekan lalu kultwit Anas menyebut beberapa nama yang disebut pantas menjadi calon Ketua Umum Demokrat, juga tentang kepantasan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mencalonkan diri kembali. Anas meminta SBY bertanya kepada hati kecilnya sendiri soal kelayakan maju kembali dalam Kongres Demokrat.
"Kelayakan dan kepantasan agak berimpit, tetapi jelas dua hal yang berbeda," ujar Anas lewat kultwitnya beberapa saat lalu, Selasa siang (6/1)
Menurut dia, ada konteks yang melatari permintaannya agar menanyakan soal kepantasan itu kepada SBY sendiri.
"Pada saat KLB (kongres luar biasa) di Bali, Pak SBY menyatakan hanya akan jadi Ketum Demokrat tidak lama. Sebentar saja. Hanya untuk keselamatan Demokrat yang tahun 2013 itu sudah persiapan menuju Pileg 2014. Ada yg menyebut hanya akan jadi Ketum sampai selesai Pileg 2014 saja. Untuk mengatasi situasi 'darurat'," ungkap Anas.
Kala itu, lanjut Anas, isu keselamatan dan situasi "darurat" partai pula yang digunakan Pak SBY untuk hentikan Marzuki Alie. Dengan sebuah SMS panjang dan beberapa poin, SBY "menekan" agar Marzuki mundur. Penggalangan untuk Marzuki di Ancol berubah menjadi dukungan kepada SBY.
"Mungkin sebagai Ketua DPR waktu itu Pak Marzuki banyak pertimbangan untuk berbeda dengan Pak SBY. Setelah sekarang bukan lagi Ketua DPR, apakah Pak Marzuki jadi berani maju? Infonya masih maju-mundur," urainya.
Dia mempertanyakan, apakah SBY layak kembali mencalonkan diri menjadi Ketum lagi dengan melanggar janji? Bagi yang tidak setuju, tentu akan menagih janji yang merupakan utang. Bagi yang bersemangat mendukung SBY, tentu akan punya alasan lain yaitu "diminta para kader".
Anas tekankan bahwa yang paling tepat menjawab soal kepantasan itu adalah takaran moralitas politik pribadi SBY sendiri.
"Ada falsafah Jawa '
sabdo pandito ratu, tan keno wola-wali'. Perkataan pemimpin harus bisa dipegang," tegasnya.
[ald]
BERITA TERKAIT: