Demikian disampaikan Ketua Umum Ormas Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR), Priyo Budi Santoso, dalam konferensi pers di kantor DPP Partai Golkar, Jakarta.
Priyo hadir dalam jumpa pers itu bersama Ketua Umum Pimpinan Pusat Kolektif Kosgoro 1957, HR Agung Laksono; Ketua Presidium Depinas Soksi, Laurens Siburian, dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MKGR, Zainal Bintang. Agung Laksono sendiri yang menjabat Ketua Presidium Penyelamat Partai Golkar.
"Kami dengar juga dalam rapat pleno kemarin, telah dibentuk Presidium Penyelamat Golkar. Sebagai produk pleno, ini merupakan refleksi dari perjalanan panjang dari poin-poin yang kami sebutkan sebelumnya. Ketika ada ketidakadilan dan sebagainya, kami memandang ini masih dalam kerangka mengembalikan golkar kepada jalur AD/ART," kata Ketua Umum Ormas Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR), Priyo Budi Santoso.
Selain itu, melihat situasi perpecahan Golkar jelang Munas IX di Bali pada 30 November, Priyo dan rekan-rekannya yang berseberangan dengan Ketua Umum Golkar, Aburizal Bakrie, menyerukan rekonsiliasi.
"Kami juga mendukung langkah penyelamatan kalau itu untuk menjaga kebesaran Partai Golkar," tegasnya.
Sementara itu, sebelumnya Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie, menegaskan bahwa pembentukan Presidium Penyelamat Partai Golkar oleh Wakil Ketua Umum Partai Golkar Agung Laksono, tidak sah. Menurut Aburizal, pembentukan presidium tersebut tidak berlandaskan aturan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Partai Golkar.
Kubu Agung Laksono membentuk presidium penyelamat Partai Golkar karena menginginkan Munas XI Partai Golkar digelar Januari 2015. Ia mengklaim, keputusan tersebut diambil berdasarkan derasnya aspirasi yang mengalir di rapat pleno Partai Golkar.
[ald]
BERITA TERKAIT: