Percayalah, Megawati Tidak Ingin Konyol Membuat PDIP Tinggal Kenangan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/aldi-gultom-1'>ALDI GULTOM</a>
LAPORAN: ALDI GULTOM
  • Rabu, 24 September 2014, 11:25 WIB
Percayalah, Megawati Tidak Ingin Konyol Membuat PDIP Tinggal Kenangan
rmol news logo Sejarah pergolakan PDI Perjuangan dalam menentukan kepemimpinan partai bukan seperti dibayangkan oleh para pengamat politik dan sebagian publik. Persoalannya bukan "trah Soekarno" yang tidak mau melepaskan diri dari kekuasaan atau kegagalan PDIP melakukan regenerasi.

"Pergolakan di PDI Perjuangan tidak sekadar trah Soekarno, tapi lebih pada kepercayaan warga pendukung," tegas Anggota DPR F-PDI Perjuangan, Bambang Beathor Suryadi, kepada redaksi, Rabu (24/9).

Dia mengingatkan pergolakan para pendiri PDIP yang terjadi usai kemengan Pemilu 1999, di kongres Semarang. Saat itu beberapa tokoh gagal untuk mengubah PDIP dari pola CV menjadi PT Tbk. Profesor Dimiyati Hartono adalah tokoh PDIP pertama yang keluar karena gagal menjadi elite DPP. Menurut Beathor, dengan sombongnya Dimyati kala itu mengatakan keluar dan akan memindahkan seluruh kader banteng ke Partai Partai Indonesia Tanah Air Kita atau PITA yang akan didirikannya.

"Alhasil, Dimiyati keluar sendiri dan partainya tak berbekas. Lalu diikuti RO Tambunan, keluar, mendirikan partai dan bubar. Berikutnya Eros Djarot bernasib sama dan yang terakhir Roy BB Janis, Laksamana Sukardi dan Arifin Panigoro, mereka gagal merebut dukungan basis massa dari trah Soekarno itu," terangnya.

Menurut Beathor, saat ini Megawati Soekarnoputri, yang sudah dipastikan akan kembali memimpin partai sampai 2020, sedang mencari pola dan proses menjadikan PDIP go public.

Dia mengatakan, sejarah PDIP tentu berbeda dengan partai politik lain. Misalnya, dengan Partai Golkar yang mengalami masa transisi dari kepemimpinan Soeharto yang tertutup menjadi Golkar yang terbuka setelah Reformasi.

Karena itu, ramainya respons warga di media sosial atas ucapan Tjahjo Kumolo dan Puan Maharani yang menjelaskan pentingnya peran trah Soekarno bagi PDIP adalah wajar, karena ketidakpahaman terhadap sejarah pergolakan PDIP.

"Mega adalah sosok rasional, tantangan zaman harus diikuti seiring perubahan dan tuntutan keadaan yang terus berubah. Tapi Mega tidak ingin konyol sehingga PDIP hanya menjadi partai kenangan. Untuk dia sangat berhati-hati menjaga simbol Soekarno tersebut agar terus sejalan dengan bangsa dan negara," tutupnya. [ald]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA