Gerakan EO-TKG yang dipimpin kader senior, Zainal Bintang, diibaratkan seperti "gerakan" tanpa bola dalam permainan sepakbola. EO-TKG mengkampanyekan, khususnya kepada kader Golkar daerah, agar bersatu menentang rekomendasi dengan menegakkan konstitusi partai.
"Pasalnya, sesuai bunyi AD/ART Partai Golkar, kepengurusan kubu ARB sudah berakhir alias tidak punya legitimasi lagi sesudah tanggal 8 Oktober 2014," kata Zainal Bintang saat Diskusi Publik yang berlangsung di Harmoni One Hotel, Batam, Rabu (17/9). Diskusi diadakan atas kerjasama EO-TKG dengan
Batam Pos Group.Diskusi itu bertajuk "Penegakan Konstitusi Partai Sebuah Kemutlakan", dihadiri puluhan wartawan komunitas lintas media di Batam, yang berkolaborasi dengan 200 media cetak dan online di seluruh Indonesia di bawah bendera Jawa Pos Group.
"Model diskusi dengan mayoritas peserta komunitas media jauh lebih efektif untuk mensosialisasikan kekuatan eksistensi Konstitusi Partai Golkar jika dibandingkan dengan sebatas rekomendasi," kata Bintang.
Konflik di Golkar terjadi antara kubu penegak Konstitusi yang diperankan EO-TKG yang dimotori Zainal Bintang dan sesepuh pendiri Golkar, Suhardiman, berhadapan dengan kubu Ketua Umum Golkar saat ini.
Kubu EO-TKG menginginkan Munas dilakukan pada 2014, berlawanan dengan kubu ARB yang memegang Rekomendasi Munas VIII di Riau tahun 2009 dan bersikukuh Munas harus digelar tahun 2015.
"Kami akan terus mendesak ARB meletakkan jabatan 8 Oktober 2014," ujar Bintang.
[ald]
BERITA TERKAIT: