"Dengan usia saya yang menginjak 48 tahun, maka itu adalah puncak usia dan semangat untuk bekerja hebat mengkonsolidasi semua lini partai," kata Priyo saat pendeklarasian pencalonan maju sebagai ketua umum Golkar di Surabaya, Jawa Timur (Minggu, 14/9).
Ketua Umum Musyawarah Kekeluargaan dan Gotong Royang (MKGR) ini menyatakan punya energi untuk datang ke seluruh jenjang mesin partai provinsi, kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.
Priyo melihat adanya pergeseran konfigurasi kepemimpinan politik yang semakin mapan dan menguat. Kenyataan ini menggeser model dan pola rekrutmen kepemimpinan nasional yang semakin terbuka dan menghamparkan karpet kepercayaan terhadap pemimpin yang fresh, energik, dan populis. Bukan pemimpin yang lamban, elitis dan kedaluwarsa.
Pola ini, kata dia, semakin terbuka sehingga sangat memungkinkan ke depan munculnya figur pemimpin seperti ini. Pergeseran dan perubahan ini harus diperhatikan oleh Partai Golkar agar langkah mencapai kemenangan pada Pemilu 2019 mudah tercapai.
"Ini kehendak alam yang tidak bisa dibendung," ungkapnya.
Priyo mengingatkan bahwa ketum Golkar mendatang harus memiliki energi besar untuk mengonsolidasikan struktur Golkar di akar rumput. Hal ini karena pengurus partai Golkar pada level paling bawah merupakan ujung tombak dan akar yang menopang kokohnya beringin.
Mereka, sambung Priyo, sangat terikat secara emosional dan teritorial dengan warga masyarakat secara langsung. Penguatan Golkar di tingkat desa semakin relevan setelah disahkannya UU Desa.
"Maka tidak boleh tidak, Partai Golkar ke depan harus memaksimalkan kader-kader dan aktivitas struktur partai di desa-desa," pungkas Wakil Ketua DPR RI ini.
[rus]
BERITA TERKAIT: