"Saatnya berkarya, enyahkan pertikaian dan perbedaan. Konflik secara keilmuan dibenarkan, tetapi konflik yang dikelola dengan baik akan melahirkan produk unggulan kebanggaan bangsa," kata Menteri Sosial, Salim Segaf Al Jufri, saat menerima kunjungan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan komponen aliansi mahasiswa se-Indonesia di Kantor Kementerian Sosial (Kemensos), Salemba, Jakarta, Kamis (21/8).
Pertemuan dilakukan untuk membangun aliansi kemitraan bagi upaya penanganan masalah kesejahteraan sosial. Kemensos menganggap mahasiswa dengan berbagai komponen organisasi yang melekat di dalamnya bisa berkontribusi untuk mendukung kesejahteraan sosial sebagai Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS).
Menurut Salim, kemampuan dan keunggulan mahasiswa Indonesia adalah kaya secara teori, tetapi kalah dari sisi praktik di lapangan. Sementara di Indonesia, permasalahan sosial relatif masih tinggi. Setidaknya ada 2,3 juta rumah tidak layak huni, 8 juta penyandang cacat (1,8 juta penyandang cacat terlantar), 9 juta penduduk lanjut usia (lansia) dan 2 juta lansia terlantar, 42 titik konflik sosial. Ditambah, Indonesia berada dalam jalur cincin api yang rawan bencana alam tektonik atau vulkanik.
"HMI bisa menjadi tenaga kesejahteraan sosial masyarakat yang bisa membantu mengatasi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)," ujarnya, seperti tertulis dalam rilis yang diterima.
Menurut dia lagi, aliansi dan kemitraan merupakan sebuah keniscayaan. Sebab, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, namun perlu partisipasi dan peran serta masyarakat untuk mewujudkan kesetiakawanan sosial, peduli dan berbagi.
Karena itu, Kemensos segera membuat kerangka kerja sama atau letter of intent (LoI) dengan HMI serta komponen mahasiswa lainnya untuk mengatasi sebagian dari permasalahan sosial yang ada.
"Beragam jurusan yang ditempuh para mahasiswa menjadi sumber mengatasi dan menyelesaikan permasalahan kesejahteraan sosial," terang Mensos.
[ald]
BERITA TERKAIT: