Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie memecat Agung Laksono dari Wakil Ketua DPP Partai Golkar lantaran mendukung Jokowi-JK. Sikap politik Agung ini tidak mendukung keputusan Golkar untuk Prabowo-Hatta. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat ini juga dicopot karena belakangan getol menginginkan agar pelaksanaan Munas Golkar digelar tahun 2014 ini.
Menurut pakar komunikasi yang juga Ketua Umum Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI), Yuliandre Darwis, Ph.D, strategi politik yang digunakan Agung Laksono tidak tepat. Ia berpendapat, setelah Agung dicopot dari kepengurusan DPP, pengurus Golkar di daerah juga semakin tidak simpati kepada Agung.
"Semua pengurus daerah masih loyal ke Ical. Dan ingat, daerah yang memiliki suara di munas. Sebaiknya Agung
cool aja, jangan banyak bermanuver, dan sabar menunggu munas 2015," ujar Yuliandre kepada redaksi, Senin (11/8).
Sebenarnya di internal Golkar, lanjut Yuliandre, pro dan kontra adalah hal biasa. Namun apa yang dilakukan Agung terbilang aneh. Agung ingin merebut kursi ketum Golkar, namun disisi-sisi ia melanggar keputusan partai soal pilpres dan munas.
"Di mata publik, Agung biasa saja terkesan didzalimi dan dapat nilai positif. Tapi di internal Agung memperoleh nilai negatif," demikian dosen ilmu komunikasi Pascasarjana UMJ ini.
[rus]
BERITA TERKAIT: