Tono adalah teman seangkatan dengan Prabowo di Akademi Militer. Ia kemudian menjadi anak buah Prabowo di Kopassus saat bertugas di daerah operasi seperti Timor Timur (sekarang Timor Leste) dan Irian Jaya (sekarang Papua).
Dalam kisahnya kepada wartawan di Jakarta (Sabtu, 28/6), Tono mengatakan bahwa saat bertugas di Timor Leste tahun 1978 Prabowo merupakan komandan kompi, sedang dirinya adalah komandan peleton. Dia mengaku mengalami kepemimpinan Prabowo yang sangat bersahaja karena langsung turun ke bawah.
“
Face to face leadership. Setiap ada kontak senjata, dia selalu bersama kami,†kata Tono.
Saat berhasil menangkap tokoh Fretilin, Nicolau Lobato tahun 1978, selain mendapat kenaikan pangkat istimewa, Prabowo juga berhak atas penghargaan Bintang Sakti. Namun, karena sifatnya yang bersahaja dia meminta penghargaan Bintang Sakti itu diberikan ke beberapa anak buahnya.
Tidak berhenti sampai di situ, Prabowo juga mengirim sebagian besar anak buahnya bersekolah di luar negeri seperti di Australia, Amerika Serikat dan Inggris.
“Begitu sayang pada anak buah pada tahun 1995 dia membuat program sekolah ke luar negeri bagi 150 perwira muda yang pintar,†kata Tono.
Kata dia, sosok ketua dewan pembina Gerindra itu telah mengajarkan bagaimana seorang pemimpin selain bisa bersikap adil tapi juga harus bisa menyejahterakan.
“Dia tak pernah menjelekkan orang lain dan atasannya. Dia teladan yang baik bagi kami,†kata Tono.
[ian]
BERITA TERKAIT: