Apabila memakai perspektif teori kepemimpinan, kata pengajar Fisipol Universitas Indonesia, Eko Sakapurnama, ada tiga hal yang menjadi titik sentral. Yaitu faktor leader, faktor pengikut atau masyarakat (follower), dan situasi yang melingkupi masyarakat (situation). Dan seorang leader akan sangat menentukan bagaimana kehidupan follower.
Dalam konteks masyarakat yang heterogen, lanjutnya, Indonesia membutuhkan seorang pemimpin yang benar-benar sudah berpengalaman dalam hal tata kelola pemerintahan. Artinya sudah terbiasa menghadapi heterogenitas permasalahan yang dihadapi birokrasi dan masyarakat.
"Heterogenitas masyarakat itu membutuhkan pemimpin berpengalaman. Bukan hanya seorang leader tegas, tapi juga jelas kualitas pengalamannya," tegas Eko dalam keterangannya, Rabu (28/5).
Dia lalu memberikan contoh seorang Bill Clinton, Presiden AS yang dikenal cukup sukses mengangkat perekonomian negara itu saat memimpin. Clinton, yang memimpin AS selama 10 tahun, adalah mantan Gubernur Negara Bagian Arkansas sebelum jadi presiden.
"Bila seseorang punya pengalaman memegang pemerintahan di bawah negara, maka cenderung lebih bagus ketika memegang di level negara," ujarnya.
"Jadi keberadaan calon presiden yang berpengalaman seperti itu justru jadi nilai tambah bagi Indonesia yang lebih kompleks, dan mudah-mudahan membawa Indonesia ke arah lebih baik," tambah Eko Sakapurnama.
[rus]
BERITA TERKAIT: