"Akan ada tim pakar minggu depan untuk mengkaji sejarahnya, termasuk menilai berapa nominalnya," kata Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP, Syahrin Abdurrahman di Batam Provinsi Kepulaun Riau (Kamis, 24/4).
Syahrin yang sempat melihat ribuan kepingan barang antik tersebut menduga benda-benda itu berasal dari kapal negara Tiongkok yang karam ratusan tahun lalu.
Menurutnya, pelaku pencurian kepingan BMKT ini memiliki kemampuan khusus untuk dapat mengangkat benda dari dasar laut. Jika melihat kondisi ribuan guci, tempayan, mangkuk, dengan bahan dasar keramik yang diselamatkan, pencuri sudah mengukur benar tekanan air di bawah laut dan rentang waktu pengangkatannya.
"Jika pencurinya amatiran, pasti saat diangkat ke laut bendanya itu akan langsung pecah. Tapi jika kita lihat, semua benda ini dikemas dengan rapih dan kuat. Untung saja tertangkap tangan," terang Syahrin.
Lokasi pengangkatan kepingan BMKT ini sekitar 18 mil laut dari pantai Pulau Numbing, Kepulauan Riau. Di propinsi tersebut, setidaknya terdapat delapan titik tersimpannya BMKT.
Polisi Khusus Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Polsus PWP3K) KKP menyelamatkan 3.680 keping BMKT dari aksi pencurian, sekitar 18 mil laut dari pantai Pulau Numbing, Kepri pada pada bulan Maret 2014. Dalam operasi pengawasan Polsus PWP3K menggunakan Kapal Pengawas Hiu 010 berhasil menangkap KM. PENYU dengan tonase 27 GT, mengamankan 3.680 keping dalam kondisi utuh, dan 327 keping dalam bentuk fragmen atau pecahan.
[dem]
BERITA TERKAIT: