"Kalau misalnya 13 sungai saja bisa dijadikan tolok ukur untuk maju sebagai presiden, apa kabar dengan Gubernur Kalimantan yang punya 30 sungai?" ujar Hasan dalam diskusi media dengan tema Mungkikah Pilkada DKI 2015? di Jakarta (Kamis, 27/3).
Menurut Hasan, alasan Jokowi tidak mampu menangani Jakarta karena terbatasnya kewenangan gubernur sangat tidak beralasan. Kembali lagi Hasan jelaskan bila memang demikian, maka seluruh gubernur bisa mengajukan hal serupa sebagai alasan untuk maju sebagai presiden.
"Kalau Jakarta nggak bisa diperbaiki dengan alasan kewenangan gubernur yang terbatas dan harus jadi presiden supaya bisa membereskan Jakarta ya itu salah. Semua gubernur di Indonesia bisa jadi presiden dong. Jangan alasannya begitu," tandasnya.
Bila semua gubernur mengeluhkan persoalan kewenangan, Hasan mempertanyakan siapa yang akan menyelesaikan pembangunan masing-masing provinsi yang dimpimpin oleh gubernur. Menurutnya, dengan maju sebagai capres, Jokowi tengah meninggalkan bom waktu buat wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
"Jokowi kayak ninggalin bom waktu buat Ahok. Jokowi kaya bilang 'Ahok gue mau maju nyapres, ntar lo gue back up dari istana'. Ya kan nggak gitu," sesal Hasan.
Satu-satunya solusi yang ditawarkan oleh Hasan adalah Jokowi dan Ahok silahkan maju sebagai capres dan cawapres. Dia juga tidak melarang Ahok dipilih oleh Jokowi menduduki posisi menteri di kabinetya nanti. Hasan menilai Jakarta butuh sosok pemimpin yang baru dan benar-benar fokus mengurus Jakarta. Bila keduanya maju atau keluar dari Jakarta, maka akan lebih mudah mencari sook baru yang lebih peduli memuwujudkan Jakarta Baru sebagaimana yang diusung oleh Jokowi-Ahok dulu.
"Jakarta pasti akan pilih pemimpin yang terbaik. Kan sudah ada presedennya. Pilkada 2015 yang terbaik. Jakarta akan pilih pemimpin baru. Bukan yang seperti sekarang," katanya.
[dem]
BERITA TERKAIT: