Demikian benang merah pemikiran orasi tokoh Sunda, M. Jumhur Hidayat, yang mengemuka dalam acara puncak Dies Natalis Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjajaran, Bandung, Kamis (7/11). Budayawan Acep Iwan Saidi juga turut hadir.
"Ada semacam pernyataan tak tertulis bahwa Presiden RI mesti orang Jawa, karena ia adalah suku terbesar di Indonesia. Tapi kenapa tak ada pemikiran di benak kita bahwa orang Sunda harusnya jadi Wapres, karena dia suku kedua terbesar?" kata Jumhur yang juga Ketua BNP2TKI.
Dia pun meyebut satu-satu para tokoh lembaga negara. Presiden dan Wapres berasal dari Jawa, Ketua DPR dan Ketua DPD dari Sumatera, Ketua Mahkamah Agung asal Sulawesi dan Ketua MK dari Bangka-Belitung.
"Ini harus jadi pemikiran bersama kita sebagai orang Sunda dalam kancah perpolitikan nasional," katanya.
Survei capres saat ini pun tak menyebut-nyebut nama tokoh Sunda.
"Sebut tiga besar, tak ada orang Sunda. Lihat di lima besar, tidak ada juga. Sepuluh besar, sama juga nihil orang kita. Mungkin di seratus besar baru ada, jumlahnya pun bisa dihitung dengan jari," papar Jumhur.
Pernyataan seperti ini, menurut Jumhur, jangan dinilai sebagai pandangan rasis atau mengedepankan kesukuan seraya menegasikan nasionalisme. Ini lebih kepada pertanyaan-pertanyaan alamiah yang mesti dijawab oleh warga Sunda sendiri.
[ald]
BERITA TERKAIT: