Ini, kata dia, lantaran para peserta konvensi berkomitmen untuk tidak saling menjegal yang langsung diartikan menjadi tidak ada kontestasi atau persaingan. Padahal konvensi yang baik merupakan persaingan dari para pesertanya untuk mendebat setiap gagasan peserta lainnya.
"Tidak usah bicara (konvensi) jadi hambar, sementara (proses konvensi) sudah hambar," kata pengamat komunikasi politik itu di Jakarta sebagaimana dilansir kantor berita
Antara (Sabtu, 19/10).
Dia kemudian mencontohkan bagaimana persaingan Barack Obama dan Hillary Clinton di Amerika Serikat saat masih berkampanye menuju kursi pencalonan presiden oleh partai demokrat Kedua calon pemimpin tersebut saling menyampaikan gagasan mengenai isu-isu penting seperti masalah aborsi di AS atau invasi militer di Irak. Kemudian masing-masing dari Obama dan Hilarry dihadapkan dengan pendapat-pendapat dari calon dari partai republik, John McKain.
Proses tersebut merupakan ajang untuk menstimulasi keluarnya ide-ide brilian dan melaksanakan komunikasi politik yang sehat di antara peserta dan masyarakat umum.
"Seharusnya kontestasi itu juga muncul di konvensi Demokrat. Misalnya, Gita Wirjawan ditanya bagaimana pendapat anda tentang isu impor atau lainnya, kemudian dihadapkan dengan pendapat Dahlan Iskan dan lain lain dalam melakukan sesuatu kebijakan. Bukan saling menyerang tapi bersaing," katanya.
[ian]
BERITA TERKAIT: