"Kader PDIP mungkin ada yang populer, tapi tidak semenonjol Jokowi. Ada juga yang mengatakan Megawati sudah saatnya menjadi pengawal ideologi, ibu bangsa dan sebagainya. Kalau PDIP tidak majukan Jokowi, kans PDIP untuk jadi partai pemerintah sangat kecil," jelas pengamat politik dari Universitas Indonesia, Doni Gahral Adian, dalam diskusi publik "Pemilu 2014: Antara Popularitas, Elektabilitas dan Eligibilitas" di kawasan Tebet, Jakarta, Kamis (10/10).
Menurut Doni, tak penting lagi apakah Jokowi menjadi calon presiden atau calon wakil presiden. Yang penting, PDIP harus mencalonkan putra Surakarta itu jika ingin menjadi partai yang memerintah.
Doni juga tidak setuju dengan desakan agar Jokowi selesaikan dulu tugasnya sebagai Gubernur DKI sampai 2017, dan setelah itu baru mencalonkan diri pada Pilpres 2019.
"Kalau dicalonkan pada 2019, Jokowi keburu banyak cacatnya dan DKI juga tidak tahu kayak apa 4-5 tahun nanti. Masyarakat kita ingatannya tidak terlau panjang, Jokowi bisa kena
Ibrahimovic effect. Hebat, tapi nanti orang keburu lupa kalau dia pernah hebat," ucapnya.
Meski minim pilihan, Doni juga yakin bahwa PDIP saat ini sedang menabung kader untuk pemilu 2019, dengan harapan PDIP punya stok capres yang cukup banyak.
"Mungkin Ganjar diusung 2019 atau 2024, jadi dikasih pengalaman jadi gubernur dulu," tutup Doni.
[ald]
BERITA TERKAIT: