Ketua Kelompok Tani Ngudi Mulya Purbakerta, Fahrurrozi, mengatakan, keong mas menyerang tanaman padi berusia kurang dari 25 hari setelah tanam (HST). Dalam satu area, kerusakan mencapai 40 persen. Bahkan, ada yang hampir mendekati 60 persen.
"Akibatnya banyak petani yang kekurangan benih karena tidak memiliki cadangan," katanya, Selasa (16/4).
Diakui oleh Fahrurrozi, saat akan memulai masa tanam kedua (MT 2) 2013 ini, banyak petani yang tidak lebih dulu memberantas hama keong seperti dianjurkan. Populasi yang besar menyebabkan hewan bercangkang kuning ini menyerang tanaman padi karena kekurangan bahan makanan.
“Kami sebenarnya sudah menganjurkan agar petani memungut keong terlebih dahulu sebelum menanam di area utama,†jelasnya.
Terpisah, Kepala Produksi Kelompok Tani SAE Organik Banyumas, Sugeng Riyadi, mengatakan, serangan hama keong sebenarnya bisa diantisipasi saat persiapan lahan. Sawah yang akan ditanami diberi kamalir (parit kecil) agar tanaman tidak terendam sehingga keong tidak bisa merusak tanaman.
“Pengolahan dan persiapan lahan sangat penting untuk meningkatkan produksi dan mengantisipasi serangan hama perusak tanaman,†jelas Sugeng.
Dalam pertanian SRI (System of Rice Intensification) organik, keong bahkan bisa dimanfaatkan sebagai bahan pupuk cair organik. Keberadaan keong, menurut Sugeng, malah menguntungkan petani seandainya bisa memanfaatkannya.
"Keong bisa dimanfaatkan sebagai pupuk cair maupun kompos. Kandungan nutrisi yang bermanfaat untuk tanaman sangat tinggi," ujarnya.
[ald]
BERITA TERKAIT: