Hal ini disampaikan Khadim Zawiyah Ar Raudhah, KH Muhammad Danial Nafis disela-sela peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dihadiri Syekh Muhammad Fadhil Al Jailani Al Hasani, KH Ma’ruf Amin, KH Marwazie Al Batawi, dan ribuan jemaah di Zawiyah Ar Raudhah, Jakarta.
“Beliau (KH Ma’ruf Amin) alim ulama, yang kita tidak usah memuji karena memang beliau sudah terpuji. Maka kami yang muda, mendoakan Insya Allah amanah Nahdliyah tetap akan bersama beliau,” ucap KH Muhammad Danial Nafis dalam keterangan tertulis, Rabu 26 Agustus 2026.
Pada kesempatan itu, Kiai Danial Nafis menyoroti isu "amplop" yang viral dan berkembang menjelang Muktamar NU.
Ia mengaku prihatin, sampai-sampai para kiai dan ulama sepuh NU turut bicara dan mengimbau para muktamirin (peserta muktamar) untuk tidak memilih berdasarkan bayaran.
“Kita prihatin, sampai masyayikh, syaikhul syuyukh pada bicara, KH Ma’ruf Amin dan sepuh-sepuh kyai NU lainnya juga campaign jangan sampai ada riswah. NU, tempat kumpulnya ulama kok main amplop untuk jabatan ketua umum sampai jabatan AHWA, itu berbayar. Naudzubillahiladzim,” tuturnya.
Karena faktor amplop itu, ia menduga, dari nama calon ketua umum yang beredar tidak ada sosok KH Ma’ruf Amin. Padahal, Rais Aam Syuriah PBNU ke-10 tersebut merupakan syaikhul syuyukh, gurunya para guru.
“Guru kita, KH Ma’ruf Amin itu tidak beredar namanya, tidak masuk dalam deretan, apa karena tidak bagi-bagi atau apa itu,” katanya.
Karena itu, ia pun mengajak para jemaah untuk membacakan shalawat Nabi Muhammad SAW sebanyak tujuh kali dan alfatihah dikhususkan untuk KH Ma’ruf Amin dan NU.
“Tujuh itu pitu dalam bahasa jawa, pitulungan, semoga KH Ma’ruf Amin dan NU dapat pertolongan dari Allah SWT dan para masyayikh kita juga dijaga,” pungkasnya.
BERITA TERKAIT: