Peninjauan dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian latihan berjalan sesuai rencana sekaligus mengukur kesiapsiagaan dan profesionalisme prajurit dalam menghadapi berbagai skenario operasi.
Dalam latihan tersebut, TNI menampilkan berbagai kemampuan operasi gabungan, mulai dari serangan siber, pengoperasian unmanned surface vehicle (USV), drone serbu dan drone kamikaze, hingga penggunaan berbagai sistem persenjataan, seperti rudal C-705, tank, *multiple launch rocket system* (MLRS), sistem pertahanan udara, serta bantuan tembakan howitzer.
Seluruh rangkaian latihan melibatkan unsur TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, dan TNI Angkatan Udara sebagai bagian dari penguatan kemampuan operasi gabungan tiga matra.
“Program latihan baik terintegrasi maupun latihan pembinaan di masing-masing angkatan tidak boleh dilaksanakan hanya satu kali dalam satu tahun. Latihan ini akan kita lakukan dua atau tiga kali dalam satu tahun,” kata Sjafrie.
Menhan menegaskan, TNI harus terus dipersiapkan sebagai kekuatan pertahanan yang modern, profesional, dan siap menjalankan tugas kapan pun diperlukan. Menurutnya, kesiapan tersebut penting untuk memperkuat daya gentar sekaligus menjaga kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Program latihan baik terintegrasi maupun latihan pembinaan di masing-masing angkatan tidak boleh dilaksanakan hanya satu kali dalam satu tahun. Latihan ini akan kita lakukan dua atau tiga kali dalam satu tahun,” ujarnya.
BERITA TERKAIT: