Hal ini dikatakannya karena Indonesia merupakan tuan rumah yang pastinya mendapat dukungan penuh dari penonton yang hadir. Karena itu, pemain Indonesia harus fokus untuk agar tidak terlena saat didukung penuh suporter.
"Jadi tuan rumah harus menjadi motivasi tersendiri bagi mereka. Memberikan yang terbaik di rumah sendiri. Bedanya kita sebagai tuan rumah, memang jadi beban tersendiri juga. Jangan sampai jadi boomerang untuk mereka," Taufik di Stasiun Palmerah, Jakarta Selatan, Jumat (17/8).
Peraih medali emas Olimpiade 2004 tersebut juga mengingatkan kepada tunggal putra, karena saat ini persaingan untuk tunggal putra sangat merata. Sejumlah atlet yang pada awalnya tidak diunggulkan justru berhasil menjadi kuda hitam dan menjuarai berbagai macam series.
"Justru juara dunianya kemarin dari Jepang. Bukan hanya China atau Korea, tapi negara lain juga merata. Bisa saja yang juara dari India atau Thailand, kita enggak tahu juga nanti ya. Jadi jangan dilihat dia pemain besar dan rankingnya bagus," jelasnya.
Menurutnya, mengukur baik tidaknya negara bukan lagi dilihat dari ranking dunia berdasarkan BWF. Ia justru berharap agar tim badminton Indonesia bisa memanfaatkan momen tuan rumah ini sebagai motivasi dan semangat tersendiri, terlebih Indonesia baru merayakan peringatan kemerdekaan ke-73.
"Bisa saja jadi juara. Sekarang justru persaingan merata. Tunggal Jepang sekarang performanya lagi bagus, jadi juara dunia. Tapi apa sih yang enggak bisa? Memang kalau dilihat dari ranking berat, tapi apapun bisa terjadi," tutup Taufik.
[fiq]