Ketua Umum PSTI Ignatius Indro mengatakan bahwa organisasinya belum lama terbentuk.
"Organisasi kami bentuk pada 2016 oleh dewan pendiri yakni Bapak Soemantri. Suporter kami lihat sangat potensial sehingga jadilah kami PSTI. Kami ingin sepakbola menjadi tontonan keluarga yang aman karena kita supoter tetapi hal itu belum tercipta," jelasnya.
Untuk itu, PSTI berharap dapat menjadi mitra Kemenpora dan PSSI ke depannya. Untuk mengkoordinir suporter, lomba membuat yel-yel untuk timnas dan koordinasi dengan fansbase serta suporter di daerah. Hingga saat ini calon anggota PSTI ada sekitar 1.000 orang dari seluruh Indonesia.
"Intinya kami adalah suporter yang sangat mencintai timnas. Suporter Indonesia adalah suporter yang sebenarnya memiliki gairah untuk sportif. Kami adalah sekumpulan suporter yang menginginkan wadah untuk suporter pendukung timnas Indonesia," tambah Indro.
Menanggapi hal tersebut, Imam melihat bahwa pengelolaan suporter tidak dapat berdiri sendiri tetapi juga oleh klub dan PSSI. Serta harus ada sanksi dan sebagainya.
"Ujungnya ke depan suporter harus dikelola modern. Misalnya ke depan penjualan tiket nonton harus mulai online, tidak ada lagi penjualan tiket secara offline," ujarnya.
Menurut Imam, eksistensi suporter sebagai pemain ke-12 saat ini di Indonesia belum dihargai secara manusiawi dan dengan menajemen modern.
"Masing-masing suporter harus ada saham di klub semisal 10 persen untuk klub. Maka konsekuensinya bila ada kerusuhan maka bukan lagi suporter tetapi juga klub. Kita harus ciptakan regulasi yang ketat semisal tidak boleh menyuarakan yel-yel yang mengandung Sara dan sebagainya. Apabila di hulunya telah kompak maka tinggal di hilirnya yaitu timnas," jelasnya.
Ditambahkan Imam, filosofinya adalah sepak bola harus menjadi pemersatu bangsa.
"Saya ingin adanya simbolisasi nasional yang dulu dilakukan elite suporter. Boleh kita berbeda klub, tetapi bicara timnas, saat kita dukung timnas maka kita semua suporter harus memakai seragam timnas," imbuhnya.
[wah]
BERITA TERKAIT: