Kericuhan & Aksi Protes Belum Reda

Jelang Penutupan PON XIX

Kamis, 29 September 2016, 08:43 WIB
Kericuhan & Aksi Protes Belum Reda
Foto/Net
rmol news logo Sehari jelang penutupan, ajang PON XIX, 2016 Jawa Barat kembali dinodai aksi ricuh dan protes keras kepada panitia penyelenggara.

Adalah kontingen gulat DKI Jakarta yang mengajukan protes keras kepada panitia karena di­anggap curang membela pegulat tuan rumah dalam pertandingan hari terakhir di GOR Saparua Bandung, kemarin.

Kericuhan itu terjadi saat pertandingan kelas 71 kg antara pegulat DKI Jakarta, Andika, melawan pegulat tuan rumah, Ergi. Pada waktu Andika meng­guling Ergi di babak pertama, seharusnya teknik gulingan itu dapat menghasilkan poin. Akan tetapi Ergi melakukan kesala­han dengan cara menghambat laju gulingan badannya dengan cara menggaet kaki Andika. Itu sebabnya gulingan tidak ber­hasil. Apa yang dilakukan Ergi menurut pelatih yang menan­gani Andika, Amirudin, jelas harus dinyatakan salah dan poin untuk Andika. Karena teknik gulingan tersebut ditahan maka keadaan berbalik Ergi yang mengunci Andika hingga meng­hasilkan nilai sempurna "Toss" untuk kemenangan pegulat tuan rumah. Sebenarnya, ketika Ergi melakukan kesalahan, pelatih DKI Amirudin mengajukan protes tetapi keputusan wasit tidak dapat diubah.

Tak puas, Amirudin naik matras pertandingan gulat dan terjadi adu mulut dengan de­wan juri sementara keamanan sudah memenuhi lapangan. Di tribun penonton nyaris terjadi baku-hantam antar suporter masing-masing tim. Melihat kondisi itu Ketua Pengprov gu­lat DKI, Steven Setiabudi Musa masuk lapangan menenangkan seluruh ofisial DKI sehingga pertandingan dapat dilanjutkan kembali.

Steven yang juga Anggota DPRD DKI Jakarta itu menjelas­kan kepada awak media bahwa pihaknya akan mengajukan protes keras atas peristiwa ini. "Semuanya demi masa depan PON yang penuh sportivitas dan persahaba­tan. Tidak boleh ada PON seperti PON XIX/2016 di Bandung Jabar ini lagi," tuturnya.

Dari cabor angkat besi, kontingen Riau melayangkan protes atas keputusan dewan wasit dan menolak medali yang diberikan kepada atletnya, Rini Maisuri.

Pihak Riau menilai angka­tan deadlift seberat 237,5 kg yang dilakukan atlet Kalimantan Barat, Tika Anggraeni peraih medali perak tidak sah.

Jika angkatan tersebut tidak sah, maka angkatan terberat Tika hanya 220 kg, dan angkatan totalnya akan berkurang dari 622,5 kg menjadi 605 kg. Sedangkan angkatan total dari Rini sendiri adalah 622,5 kg.

Protes resmi yang dilayang­kan Riau diterima dewan wasit. Namun setelah rekaman video pertandingan diputar ulang, dewan wasit menilai angkatan Tika tetap sah, dan tetap berhak meraih medali perak, karena berat badan Tika hanya 92,46 kg, lebih ringan dari Rini yang berat badannya 106,30 kg.

Dengan keputusan itu, atlet Riau menolak naik ke podium untuk menerima medali. Medali emas kelas ini menjadi milik lifter Jawa Barat, Fitria Martiningsih dengan total angkatan 674,5 kg.

Kerap terjadinya kericuhaan dan dugaan keberpihakan kepada tuan rumah disesalkan Chef de Mission (CdM) Sumatera Selatan, Ahmad Taqwa. Menurutnya, PON Jabar sudah tak bisa dijadikan tolak ukur pembinaan prestasi Tanah Air.

"Penyelenggaraan PON kali ini mengalami penurunan dan mencederai proses pembinaan prestasi daerah. Jangan heran jika nanti prestasi Indonesia di internasional pun bisa kalah," terang Ahmad usai rapat koor­dinasi CdM terakhir di Hotel The Trans, Bandung, kemarin.

Mendekati penghujung PON, Wakil Gubernur Jawa Barat sekaligus Wakil Ketua Umum Panitia Besar PON XIX/2016, Deddy Mizwar, tak menying­gung banyaknya kericuhan dan tindakan tak sportif. Dia cuma bilang terimakasih. ***
Konten iklan di bawah berasal dari platform DISQUS, tidak terkait dengan pembuatan konten ini

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA