Menurutnya, tim muay thai tersebut seharusnya tidak boleh terpisah dari kontingen induknya.
Demikian dikatakan Yayuk di Jakarta Senin (26/9) malam.
Kader PAN asal Yogyakarta itu menyebutkan, secara umum pemberitaan terlantarnya atlet muaythai ini masih simpang siur. Di satu sisi media massa memblow up berita tersebut sehingga tersebar begitu luar biasa.
Namun belakangan muncul klarifikasi dari PB Muay Thai Pusat dan Gubernur Sulteng Longki Janggola bahwa keberangkatan tim Muaythai tersebut tanpa koordinasi dengan pihak terkait.
Longki sendiri menyebutkan, Sulteng sejak awal menyatakan tidak mengirimkan cabang Muay Thai, yang termasuk cabor eksibisi ke PON 2016 Jawa Barat. Adapun cabor eksibisi yang dikirimkan hanyalah Gateball dan Yong Moodo.
"Saya justru mempertanyakan tim Muay Thai Sulteng. Mengapa mereka seolah melepaskan diri dari tim induknya, yakni kontingen olahraga Sulawesi Tengah ke PON. Seharusnya semua cabang olahraga yang akan bertanding di PON, berkoordinasi dengan Konida, Pengda cabor di provinsi tersebut serta Pemerintah Daerah masing-masing," kata Yayuk, yang pernah meraih ranking 19 tunggal putri dunia di era 1980 an itu.
Jika ada koordinasi, menurut Yayuk, tentu Pemda Sulteng serta Pengda Muay Thai Sulteng seyogyanya bertanggung jawab pada tim dari cabang olahraganya yang berangkat ke PON.
"Mereka kan hanya direkomendasi oleh Pemda Kabupaten Morowali. Kalau tidak berkoordinasi dengan institusi lainnya, ya tanggungjawabnya pada ofisial masing-masing tim," kata Yayuk.
Lebih lanjut Yayuk menceritakan, saat aktif menjadi atlet, tim tenis Yogyakarta selalu berkoordinasi dengan Pemda DIY maupun PB Pelti Yogyakarta.
Mereka selalu beriringan baik saat berangkat, bertanding, maupun pulang ke daerah. "Kalau cabang yang sudah selesai bertanding, tapi PON belum selesai. Kita wajib tetap di tempat dan menjadi suporter tim cabor lainnya untuk DIY," ujar Yayuk.
[wid]
BERITA TERKAIT: