Sinyal ini tertangkap dari cabang olahraga (cabor) anggar. Atlet Jawa Timur (Jatim) yang pernah mewakili Indonesia di Olimpiade London 2012, Diah Permatasari dipaksa kalah oleh wakil tuan rumah, Alida Mega Putri Salim dengan skor 10-15. Mental Dian hancur habis-habisan di pertandingan ini.
Sebab, ketika skor seri, wasit asing asal Thailand selalu memÂberikan poin untuk wakil Jabar. Setelah pertandingan usai, Diah langsung menangis tersedu-sedu. Merasa anak buahnya dicurangi, manajer anggar Jatim, Muhammad Rudiansyah berang. "Semua orang yang nonton dan lihat pasti tahu. Ketika musuh tuan rumah, bukan hanya pemain yang terlibat, tapi semua orang terlibat. Berat kalau musuh tuan rumah," kata Rudi kepada awak media kemarin sore.
Rudi mengungkapkan, sebeÂlum lomba sempat terjadi keribÂutan antara PB IKASI dan PB PON masalah wasit. "Kemarin masih ribut. Tuan rumah dan PB IKASI sama-sama menyodorkan nama-nama wasit. Kehadiran wasit asing harapannya netral, tapi ternyata seperti itu," keluh Rudi.
Hans Nayoan, technical delegate cabor anggar membenarÂkan jika ada human error yang dilakukan wasit. Hans menÂgungkapkan, penunjukan wasit berasal dari PB PON, bukan PB IKASI. "Wasitnya dari PB PON. Tapi kita minta surat perjanjian bahwa harus ikut aturan," ucap Hans sembari pergi meninggalÂkan awak media.
Tim estafet 4 X 100 meÂter putri DKI Jakarta sukses merebut medali emas di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 Jawa Barat yang berÂlangsung di Stadion Pakansari Cibinong, Bogor, kemarin.
Estafet putri yang dibintangi Dedeh Erawati, Emilia Nova, Yuslina, dan Irene Alisjahbana tak tertandingi oleh dua pesaingÂnya dalam perburuan menuju garis finis, yakni Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat. Tim estafet putri DKI masuk finis paling depan dengan catatan waktu 46,07 detik. ***
BERITA TERKAIT: