Jatim unggul satu medali emas dari DKI. Tuan rumah mengumpulkan 35 medali emas, 29 perak dan 15 perunggu. Sedangkan DKI Jakarta mengantongi 34 medali emas, 22 perak dan 18 perunggu. Satu medali tersisa akan diperebutkan Jatim dan Jateng yang akan bertemu dalam final cabor sepakbola dan juga sebagai penutup gelaran PON Remaja I/2014.
Dhimam Abror Djuraid Ketua Harian KONI Jatim mengemukakan bahwa sukses ini tak lepas dari perjuangan seluruh komponen pendukung PON Remaja. Target Jatim sendiri memang menjadi yang terbaik dalam even ini.
"Ini sejarah bagi Jawa Timur. PON Remaja pertama kali digelar dan kita juara umum di rumah sendiri, dan sukses ini merupakan sejarah yang akan tercatat dalam tinta emas dan akan selalu dikenang selamanya dalam sejarah olahraga Indonesia," ungkap Abror.
Abror juga menambahkan peluang Jatim untuk bisa menambah pundi-pundi emasnya masih cukup terbuka lebar. "Kita masih menyisahkan cabor sepakbola. Jika menang Jatim masih berpeluang menambah pundi-pundi emasnya," pungkasnya.
Sebaliknya Ketua Kontingen DKI Jakarta, Icuk Sugiarto mengatakan sportivitas dan persahabatan yg di dengung-dengungkan hanya slogan saja di PON Remaja kali ini.
Ia menjelaskan, cara-cara tuan rumah dalam perebutan medali tidak hanya merugikan Kontingen DKI Jaya tapi juga seluruh kontingen terutama di cabang olahraga permainan diantaranya, tenis, tenis meja dan bulutangkis serta senam. Icuk juga mengeluhkan lemahnya koordinasi antara PB PON dan KONI pusat dalam menentukan atlet yang bertanding. Di cabang tenis atlet DKI diprotes dan di diskualifikasi karena dianggap bukan atlet DKI.
DKI berhasil menambah perolehan medali emasnya pada cabor senam ritmik alas simpai atas nama Ester, senam ritmik alat bola (Adisty), dan tenis meja ganda campuran atas nama Bagus & Rina.
Berikut perolehan medali hingga pukul 22.00 WIB (Minggu, 14/12):
1. Jatim 35 29 15
2. DKI Jakarta 34 22 18
3. Jabar 13 9 15
4. Jateng 7 8 14
5. Sumbar 7 8 10
[wid]