Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menyatakan, sebagai ibukota negara, Jakarta sebetulnya sangat terbuka bagi siapapun yang hendak mencari penghidupan lebih baik.
"Siapapun boleh datang. Kita ambil contoh sederhana saja, pembantu rumah tangga saja pulang kampung, ibu-ibu pesan, 'kalau ada yang mau kerja, diajak ya". Bener nggak? Nah, kenapa pembantu rumah tangga boleh datang ke Jakarta karena mereka masih ditampung di bosnya," ujar Basuki di Balaikota, Jakarta Pusat, Senin (4/8).
Sebaliknya jika yang direkrut itu tenaga kerja muda dengan bayaran rendah seperti terjadi di pabrik-pabrik kecil. Hal ini justru memicu tumbuhnya pemukiman kumuh karena pabrik tempat mereka bekerja tidak menyediakan fasilitas tempat tinggal.
"Justru jakarta yang paling repot itu pabrik-pabrik, itu merekrut tenaga kerja muda supaya bisa dibayar murah. Itu yang saya larang, dan biasanya mereka tidak menyediakan tempat tinggal, mereka terpaksa tinggal di pinggir-pinggir sungai itu. Nah ini yang bahaya. Kita mau dorong pabrik-pabrik itu keluar dari Jakarta saja," tegasnya.
Ia tak masalah jika ada yang ingin mengadu nasib di Jakarta selama mengikuti aturan. Yakni, memiliki uang dan keterampilan yang bermanfaat. Namun ia tak segan-segan mengusir pendatang baru yang cuma jadi pengangguran di Jakarta.
"Turis boleh nggak datang ke Jakarta? Boleh, Kenapa boleh? Punya duit soalnya. Kalau yang datang ke sini kelas menengah ke atas, punya keterampilan ya nggak apa-apa. Orang ngadu nasib gimana? Boleh orang ngadu nasib di Jakarta, ngadu nasib kamu harus tinggal sama saudara, sama temen kamu. Kalau kamu bisa berhasil kita kasih tinggal, kalau nggak kamu mesti pulang kampung juga," terangnya.
"Nah caranya
gimana? Jangan ada kawasan kumuh. Semua yang tinggal di pinggir kereta, pinggir sungai, dikolong tol mesti kita bongkar semua, seperti itu," tegasnya lagi
.[wid]
BACA JUGA: