Kepala Unit Pengelola Teknis (UPT) BPPT, Heru Widodo menjelaskan bila operasi TMC dilakukan untuk merekayasa cuaca dari hujan menjadi tidak hujan. Begitu juga sebaliknya. Petugas akan menyebar garam (NaCl) di udara sehingga dapat mempercepat proses awan menjadi hujan atau
jumping process terhadap awan yang sedang tumbuh dan tengah bergerak ke arah Jabodetabek.
"Metode ini dieksekusi menggunakan pesawat terbang jenis Hercules dan Casa 212-200. Metode ini juga bisa mengurangi masa udara yang masuk ke Jabodetabek agar hujan yang terjadi tidak terlalu besar. Hanya hujan sporadis dan lokal saja," kata Heru dalam konferensi pers di Lapangan Udara Halim Perdana Kesuma, Jakarta Timur, Selasa (14/1).
Metode ini juga bisa mengganggu proses pertumbuhan awan di dalam Jabodetabek. Sehingga awan yang berpotensi menurunkan hujan dengan curah hujan tinggi di luar Jabodetabek.
"Metode ini dieksekusi menggunakan peralatan darat atau ground-based generator di 20 lokasi yang membangkitkan partikel-partikel halus untuk menciptakan efek persaingan pada awan agar sulit berkembang," bebernya.
Metode TMC yang akan dilakukan tahun ini kata Heru lebih modern. Bila tahun 2013 lalu garam disebar dengan cara manual dari dalam pesawat. Maka, kali ini, garam dimasukkan ke dalam tabung khusus. Sehingga pesawat yang membawa bibit garam tidak akan merusak badan pesawat.
"Untuk yang sekarang, kita bukan ingin meningkatkan target atau tidak. Tapi yang jelas, TMC saat ini mengurangi korosi debu-debu di pesawat, jadi lebih efektif dan lebih mengurangi resiko kecelakaan karena pesawat jadi lebih bersih," tutupnya.
[wid]
BACA JUGA: