Ihsan tidak mampu mengatasi perlawanan pemain Heo, dan harus menyerah dalam rubber game 18-21, 21-13, 16-21 di Stadion Huamark, Bangkok, kemarin.
Usai laga pebulutangkis 18 tahun kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat ini tak kuasa menutup rasa kecewanya.
“Saya sangat kecewa dengan hasil ini, padahal ini adalah WJC terakhir untuk saya,†ujarnya dikutip website resmi PBSI, kemarin.
Meski kalah, setidaknya Ihsan sudah memberikan perlawanan maksimal. Itu terbukti terlihat dari jalannya laga yang berlangsung alot. Ihsan dan Heo selalu saling berkejaran angka di game pertama. Heo yang bermain lebih agresif berhasil mengamankan game pertama.
Bermain lebih rileks, Ihsan pun membalas kekalahannya di game pertama dan merebut game kedua dengan skor meyakinkan 21-13.
Sayangnya di game penentuan, Ihsan justru tampil antiklimaks dan tertinggal jauh 4-10. Sementara Heo yang kian percaya diri, tak memberi kesempatan pada Ihsan untuk mengembangkan permainannya. Dia terus menghujani Ihsan dengan smash-smash keras.
Ihsan sempat menghembuskan harapan saat memperkecil ketertinggalannya menjadi 15-17. Sayang, Ihsan kembali berada di bawah tekanan saat melakukan kesalahan demi kesalahan sendiri. Heo pun mengunci perolehan skor Ihsan di angka 16 hingga akhirnya merebut tiket final.
“Ihsan masih harus belajar mengontrol emosi di lapangan, masih sering terburu-buru. Namun secara keseluruhan, Ihsan tidak kalah kualitas dari lawannya, dia sudah tampil maksimal,†kata sang pelatih Imam Tohari.
Dengan kegagalan Ihsan ini maka hanya ada satu wakil Indonesia yang mampu melenggang ke babak final, yaitu pasangan ganda campuran Kevin Sanjaya Sukamuljo/Masita Mahmudin.
Kevin/Masita lebih dulu bertanding berhasil menang dengan susah payah atas lawannya dari China, Liu Yuchen/Dongping Huang.
Harapan ganda campuran Garuda ini hampir pupus karena di game awal mereka sudah kalah telak. Perlahan namun pasti, Kevin/Masita bangkit dengan bermain lebih rapi.
Mereka memperkuat pertahanan di game kedua, lalu mampu balik memimpin 18-17 dan akhirnya memaksa rubber game setelah berhasil merebut game kedua dengan 21-17.
Pada game ketiga, perolehan skor berlangsung ketat. Kevin/Masita sempat melakukan kesalahan sendiri dan tertinggal jauh, 11-17.
Namun, mereka tak menyerah. satu demi satu poin dikumpulkan, sampai akhirnya dan keadaan berbalik , Kevin/Masita menekan unggulan kedua tersebut.
Saat kedudukan match point 20-19 untuk Indonesia, satu pengembalian Huang yang menyangkut di net memastikan Kevin/Masita meraih kemenangan sepanjang tiga set dan menang 6-21, 21-17, 21-19. Hasil ini memastikan satu wakil Indonesia di laga final.
Di partai puncak Kevin/Masita menghadapi pasangan China Kaixiang Huang/Qingchen Chen yang lolos ke final setelah mengalahkan pasangan unggulan pertama asal Korea Selatan Sol Kyu Choi/Yoo Jung Chae 21-13, 21-11.
Usai pertandingan, Masita mengaku masih merasakan ada kekurangan pada dirinya dalam menaklukan lawan di set pertama. “Permainan kami di game pertama rasanya main belum lepas. Bola-bola depan saya juga langsung diserobot dengan cepat Huang. Saat ketinggalan, kami tidak memikirkan berapa angkanya, yang penting main dan raih poin terus,†tutur Masita.
Sedangkan Kevin mengatakan, meski sempat tegang dengan suasana lapangan dia hanya berusaha fokus dalam pertandingan serta mengejar nilai sebanyak-banyaknya.
“Lawan hari ini sebetulnya tidak terlalu berbahaya dibanding Huang Kaixiang/Chen Qingchen yang akan menjadi lawan kami di final.†[Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: