Kesal Tak Ditemui, Ratusan Pendemo Teriaki Ahok Banci dan Pecundang

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Senin, 29 Juli 2013, 18:55 WIB
rmol news logo Ratusan massa yang tergabung dalam Rakyat Jakarta Jahit Mulut menyatroni kantor Basuki Tjahaja Purnama berkantor, Balaikota, Jakarta Pusat, Senin (29/7).

Mereka yang merupakan perwakilan dari sejumlah ormas menuntut partner Joko Widodo tersebut segera minta maaf secara terbuka di media massa atas pernyataannya yang telah melukai warga Jakarta, khususnya Betawi.

Misalnya, menuding warga yang menduduki bantaran Waduk Pluit sebagai komunis, ingin memenjarakan PKL Tanah Abang, sampai melecehkan para pengawai negeri sipil (PNS) Pemprov DKI di ruangan rapat dan mengunggahnya ke jejaring Youtube. Termasuk menuding anggota DPRD DKI Lulung Abraham Lunggana sebagai oknum preman pasar Tanah Abang.

"Perilaku dan bacot Ahok itu nggak baik, nggak pantes di Jakarta. Hari ini kami mau denger langsung bacot Ahok. Sebagai orang Jakarta, kami tersinggung dengan setiap ucapan Ahok yang mendeskreditkan warga Betawi," lantang Syahrudin dari Pemuda Panca Marga saat berorasi di depan Balaikota.  

Orasi yang berlangsung selama satu jam tersebut nyatanya tidak mendapat respon dari Ahok. Beberapa demonstran akhirnya berusaha masuk ke halaman Balaikota. Bahkan, ada yang sampai ke dalam gedung. Namun, upaya tersebut mendapat perlawanan dari petugas kepolisian dan Satpol PP. Masssa yang tidak sabar lalu mendorong petugas. Ketika  ditemui oleh Kepala Satpol PP DKI Jakarta, Kukuh Hadi Santoso di ruangan Crisis Centre DKI, massa justru semakin brutal dan sempat menimbulkan suara gaduh.

Massa yang sudah kadung emosi lantas berteriak menyebut Ahok sebagai banci dan pecundang karena tidak berani menemui mereka.

Ketua Forum Pemuda Betawi Rahmat AS, perwakilan salah satu ormas pendemo menjelaskan, kedatangan mereka sebenarnya hanya ingin meminta Ahok untuk mengubah sikap dan perilaku berbicara di depan publik. Misalnya, relokasi warga Waduk Pluit seperti komunis, ingin memenjarakan PKL Tanah Abang, sampai melecehkan para pengawai negeri sipil (PNS) Pemprov DKI di ruangan rapat.

"Selaku pejabat publik, harus berbicara secara santun. Jangan sampai membuat perasaan warga Jakarta jadi tersinggung," kata Rahmat di ruang Crisis Center Balai Kota saat ditemui Kukuh.

"Cara bicara Ahok itu tidak etis selaku pimpinan daerah," imbuhnya.

Sementara Ketua Brigade Anak Jakarta (Braja), Eki Pitung menegaskan bahwa pihaknya tidak akan bergeser dari Balaikota sampai bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo untuk mengadukan langsung perilaku pasangannya. Mereka berharap Jokowi dapat menegur Basuki agar berbicara di depan publik dengan kata-kata yang menyejukkan hati.

"Kami akan menduduki Balai Kota ini sampai kapan pun. Asal bisa bertemu Ahok atau Jokowi. Massa kami akan terus betahan hingga besok pagi," ucap Eki ngotot.

Menanggapi hal itu, Kasatpol PP DKI Kukuh Adi Santoso berjanji akan segera menyampaikan aspirasi mereka kepada Basuki. Dia juga meminta tokoh ormas untuk bisa meredam aksi massa pendemonya agar tidak memicu tindakan premanisme.

Namun respon Kukuh ini tetap ditolak para pendemo. Massa mendesak Kukuh agar dapat memastikan pertemuan dengan salah seorang pemimpin Jakarta, Jokowi atau Basuki. Tak berselang lama, massa pendemo akhirnya diterima oleh Ahok di ruang kerjanya, lantai 2.[wid]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA