Turnamen yang digelar di All England Club, London, Inggris ini bak kutukan bagi petenis tuan rumah. Betapa tidak, petenis putra kelahiran Inggris yang terakhir jadi juara dalam kurun 77 tahun adalah Fred Perry yang memenanginya pada 1936.
Sementara di bagian putri, gelar juara terakhir kali direbut pada 1977 atas nama Virginia Wade.
Namun Murray sanggup mengakhiri kutukan itu dengan menumbangkan Djokovic tiga set langsung, 6-4, 7-5 dan 6-4 pada laga final, dinihari kemarin.
“Memenangi Wimbledon adalah puncak. Ini adalah turnamen yang sangat sulit. Jadi mungkin itu bisa memakan waktu yang lama,†ujar Murray usai laga, dikutip
Eurosport.Bertanding di Centre Court, sejak awal Murray tampil percaya diri karena didukung penuh publik tuan rumah. Penampilan dua petenis tersebut dalam kejar mengejar angka dengan aksi jual beli break disuguhkan dengan apik.
Djoker-julukan Djokovic melakukan break di game keempat untuk menyamakan kedudukan 2-2. Namun, di game ketujuh Murray membalas dengan melakukan break, dan tak tertahan merebut set pertama, 6-4.
Set kedua, Murray tetap memegang kendali, sementara Djokovic berupaya keras memberikan perlawanan. Hanya saja 12 unforced error Djoker, berbanding lima milik Murray membuatnya tertinggal 7-5 di set ini.
Memasuki set ketiga, Murray yang tinggal butuh satu set untuk menang, kian percaya diri. Lawannya dibuat kerepotan meladeni pukulan-pukulan tajam yang dia lepaskan.
Imbasnya, perlahan tapi pasti dia bisa mengejar ketinggalan jadi 4-4, hingga menutup set dengan 6-4 dalam laga berdurasi total tiga jam delapan menit.
“Saya sadar setiap orang ingin melihat orang Inggris Raya menjadi juara di Wimbledon, dan saya harap semuanya menikmati ini.â€
Hasil yang diraih Murray kali ini lebih baik daripada pencapaian tahun lalu. Seperti diketahui, tahun lalu, Murray gagal juara karena kalah dari Roger Federer di babak final. Kekalahan itu bahkan membuatnya meneteskan air mata usai laga.
“Saat itu adalah momen tersulit dalam karierku. Tapi hari ini adalah pertandingan yang sulit dengan beberapa reli panjang tapi aku melakukannya.â€
Meski baru meraih gelar, petenis bernama lengkap Andrew Barron Murray ini tetap menyimpan pertanyaan, mengapa petenis Inggris selalu kesulitan meraih sukses di turnamen ini. “Saya pikir dengan jumlah uang yang diinvestasikan dalam olahraga di negeri ini, maka sewajarnya tidak harus menjalani 70 tahun yang aneh.â€
Kemenangan bersejarah ini ia dedikasikan kepada sang pelatih, Ivan Lendl. Murray mengungkapkan, sang pelatih selalu bangga padanya. Makanya, Lendl adalah sosok yang sangat berarti dalam karir Murray.
“Selama ini, Lendl tidak pernah tersenyum di depan umum terlalu banyak, tapi ketika dia jauh dari keramaian dan sorotan kamera, dia adalah karakter yang sangat berbeda.â€
Terkait dengan kekalahannya, Djokovic tidak mau mencari alasan. Beberapa kali melakukan unforced error dan terlihat emosional, menurutnya bukan penyebab dia kalah.
“Jelas saya kecewa, tapi Anda tidak bisa memenangi semua pertandingan. Saya kalah dari pemain yang lebih baik hari ini,†tegasnya.
Menurutnya, Murray bermain lebih sabar di momen-momen penting. Tak lupa dia juga minta maaf karena tidak menunjukkan permainan terbaiknya. â€Ada banyak reli bagi kami berdua. Itu tidak mudah, tapi itulah yang tidak kami perkirakan.â€
Ucapan selamat pada Murray mengalir deras. Tak hanya datang dari kolega sesama petenis. Penonton, pemain sepakbola, pelatih, bahkan hingga Ratu Inggris, dan Perdana Menteri David Cameron. Mereka mengaku salut pada perjuangan Murray.
“Hari yang luar biasa untuk dunia Tenis di Inggris dan juga Britania. Suatu kehormatan bisa menyaksikan Andy Murray mencetak sejarah baru,†ujar Perdana Menteri Inggris, David Cameron.
Koresponden BBC, Peter Hunt menyebutkan, Ratu Elizabeth II juga memberi perhatian atas sukses Murray kali ini. “Ratu sudah mengirimkan pesan khusus untuk Andy Murray,†ujarnya.
Selain dari dua tokoh penting di Inggris itu, pujian juga datang dari Penny Perry yang merupakan putri dari Fred Perry, yang notabene jadi orang Inggris terakhir yang memenangi titel grand slam ini.
“Kami sebagai keluarga dan publik Inggris, sudah lama menantikan momen ini. Dan sekarang penantian itu datang dan kami tidak yakin bagaimana harus bereaksi,†sanjungnya. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: