PTKIN Siapkan Langkah agar Inovasi Mahasiswa Tak Berhenti di Ajang Lomba

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Minggu, 01 November 2026, 11:56 WIB
PTKIN Siapkan Langkah agar Inovasi Mahasiswa Tak Berhenti di Ajang Lomba
Bidang perlombaan OASE III PTKIN 2026 (Foto: Kemenag)
Kecil Besar
rmol news logo Sebuah inovasi tidak cukup hanya dipamerkan atau mengantarkan seseorang meraih penghargaan. 

Tantangan sesungguhnya justru muncul setelah kompetisi berakhir: bagaimana hasil penelitian dikembangkan agar dapat menjawab persoalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Persoalan keberlanjutan riset tersebut menjadi salah satu perhatian dalam penyelenggaraan Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE) III PTKIN 2026 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pada 3 -7 November 2026 mendatang.

Sebanyak 497 finalis dari 54 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) akan berkompetisi dalam ajang tersebut. Namun, OASE tidak hanya diarahkan untuk mengukur kemampuan dan prestasi mahasiswa. Kompetisi ini juga menjadi momentum untuk mengidentifikasi hasil penelitian yang berpotensi dikembangkan menjadi inovasi yang bermanfaat lebih luas.

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama, Sahiron, mengatakan perguruan tinggi perlu memastikan pembinaan terhadap karya mahasiswa tetap berlanjut setelah kompetisi. Penelitian yang memiliki prospek pengembangan membutuhkan pendampingan, pengujian, serta dukungan yang sesuai.

“Medali merupakan pengakuan atas capaian mahasiswa. Tugas perguruan tinggi berikutnya adalah melihat karya mana yang layak dikembangkan, pengujian apa yang masih diperlukan, dan dukungan apa yang dibutuhkan agar penelitian itu terus bergerak,” ujar Sahiron dalam pernyataannya dikutip redaksi di Jakarta, Minggu 1 November 2026.

Menurutnya, penguatan kapasitas sains dan teknologi di lingkungan PTKIN perlu diikuti dengan kemampuan menghasilkan penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Bidang kesehatan, pangan, energi, dan lingkungan menjadi sejumlah sektor yang membuka peluang kontribusi nyata dari kalangan akademisi.

“Keunggulan kampus Islam harus terasa dalam mutu ilmu dan manfaatnya. Kita ingin mahasiswa mampu menghasilkan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan sekaligus peka terhadap kebutuhan masyarakat,” lanjutnya.

Orientasi tersebut tercermin dalam sejumlah cabang riset yang diperlombakan pada OASE III. Tema yang diangkat mencakup nanoteknologi dan kesehatan, teknologi produk halal dan ketahanan pangan, pengelolaan limbah dan lingkungan hidup, hingga konservasi energi untuk mendukung kampus hijau.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Noorhaidi Hasan, menjelaskan bahwa kompetisi juga dapat menjadi sarana bagi perguruan tinggi untuk memetakan penelitian mahasiswa yang memiliki peluang dikembangkan lebih lanjut.

Proses tersebut membutuhkan tindak lanjut yang berbeda untuk setiap karya. Sebagian penelitian mungkin masih memerlukan penguatan data dan pengujian ulang, sementara karya lainnya membutuhkan penyempurnaan prototipe atau dukungan mitra penelitian.

“Setiap karya membutuhkan tindak lanjut yang sesuai. Ada yang perlu memperkuat data, mengulang pengujian, menyempurnakan prototipe, atau mencari mitra penelitian. Pendampingan harus mengikuti kebutuhan ilmiahnya,” ujarnya.

Noorhaidi juga mengingatkan bahwa keberhasilan meraih penghargaan belum otomatis menjadikan sebuah penelitian siap diterapkan di tengah masyarakat. Terutama untuk inovasi di bidang kesehatan dan pangan, aspek manfaat, keamanan, serta kesesuaian penggunaannya harus dibuktikan melalui tahapan pengujian yang relevan.

Karena itu, kolaborasi antarkampus menjadi bagian penting dalam pengembangan hasil riset. Pertemuan selama OASE dapat membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mendapatkan masukan, dosen untuk menjajaki penelitian bersama, serta perguruan tinggi untuk berbagi keahlian dan memanfaatkan fasilitas penelitian secara kolaboratif.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Abdur Rozaki, sebelumnya juga menegaskan pentingnya orientasi tersebut dalam rapat koordinasi persiapan OASE III.

“Ini bukan sekadar lomba, melainkan bagaimana langkah dan inovasi mahasiswa dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi Indonesia,” tegas Abdur Rozaki.

Upaya mempertemukan potensi penelitian antarkampus salah satunya diwujudkan melalui ekspo inovasi yang melibatkan 34 PTKIN. Kegiatan yang berlokasi di Halaman Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga itu direncanakan dibuka pada 4 November 2026, sebagai bagian dari rangkaian OASE III.

Ekspo tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk memperkenalkan hasil karya mahasiswa, tetapi juga membuka peluang pertukaran gagasan dan penjajakan kerja sama penelitian.

“Melalui ekspo, kampus dapat mengenali potensi penelitian satu sama lain. Interaksi mahasiswa dan dosen diharapkan menghasilkan masukan yang konkret serta peluang kerja sama setelah kegiatan selesai,” ujarnya.

Capaian OASE III tidak semata diukur dari jumlah medali yang diraih para peserta. 

Keberlanjutan penelitian, terbentuknya kolaborasi antarkampus, serta kemampuan mengembangkan gagasan menjadi pengetahuan dan teknologi yang menjawab kebutuhan masyarakat menjadi bagian penting dari tujuan penyelenggaraan ajang tersebut. rmol news logo article


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA