Di balik perayaan ulang tahun tersebut, Jakarta telah melewati berbagai fase sejarah dan pergantian nama. Wilayah ini pernah dikenal sebagai Sunda Kelapa, kemudian berubah menjadi Jayakarta, lalu menjadi Batavia pada masa kolonial Belanda, sebelum akhirnya dikenal sebagai Jakarta seperti saat ini.
Lantas, bagaimana perjalanan Jakarta dari masa pelabuhan Sunda Kelapa hingga menjadi ibu kota Indonesia?
Sejarah Jakarta
Merujuk buku
Sejarah Kota Jakarta 1950–1980, sejarah Jakarta bermula dari pelabuhan Sunda Kelapa yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kerajaan Hindu Pajajaran. Pada masanya, Sunda Kelapa menjadi pusat perdagangan yang ramai dan strategis sehingga menarik perhatian bangsa Portugis yang saat itu telah menguasai Malaka.
Pada awal abad ke-16, Portugis mulai menjalin hubungan dengan Kerajaan Pajajaran dan memperoleh izin untuk membangun benteng di sekitar muara Sungai Ciliwung guna memperkuat jalur perdagangan mereka. Namun rencana tersebut tidak berjalan mulus.
Ketika Portugis kembali ke Sunda Kelapa pada 1527, wilayah tersebut telah beralih kekuasaan ke tangan Pangeran Fatahillah. Perebutan wilayah pun terjadi hingga akhirnya pasukan Fatahillah berhasil memenangkan pertempuran dan mengusir pengaruh Portugis dari kawasan tersebut.
Usai kemenangan itu, nama Sunda Kelapa diubah menjadi Jayakarta, yang berarti “kemenangan yang sempurna”. Peristiwa inilah yang kemudian menjadi dasar penetapan 22 Juni sebagai hari lahir Kota Jakarta.
Seiring berkembangnya perdagangan, Jayakarta tumbuh menjadi kota pelabuhan yang semakin ramai. Pedagang dari berbagai negara, termasuk Belanda, Portugis, dan Inggris mulai berdatangan serta mendirikan pusat aktivitas dagang di kawasan tersebut.
Memasuki 1619, Belanda melalui VOC memindahkan pusat kekuasaannya ke Jayakarta. Di bawah kepemimpinan Jan Pieterszoon Coen, nama Jayakarta kembali diubah menjadi Batavia.
Pada masa Batavia, Belanda membangun tata kota yang menyerupai kota-kota di Eropa dengan sistem blok dan kanal. Namun, keberadaan kanal tersebut kemudian banyak dikritik karena dianggap menjadi sumber penyakit dan lingkungan yang kurang sehat.
Batavia menjadi pusat pemerintahan kolonial Belanda selama kurang lebih tiga abad, hingga akhirnya berakhir pada 1942 ketika Jepang mengambil alih kekuasaan. Di masa pendudukan Jepang, Batavia kembali berganti nama menjadi Djakarta Tokubetsu Shi atau Jakarta Kota Istimewa.
Nama tersebut mulai digunakan secara resmi pada 8 Desember 1942. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Jakarta kemudian ditetapkan sebagai ibu kota Republik Indonesia.
Selanjutnya, pada 30 Desember 1949, penggunaan nama Batavia resmi dihapus dan kota ini mulai dikenal sebagai Jakarta. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 22 Juni 1956, Jakarta semakin dikukuhkan identitasnya sebagai kota yang menjadi simbol perjalanan sejarah bangsa.
Sejak saat itu, 22 Juni diperingati sebagai Hari Ulang Tahun Jakarta, sekaligus menjadi pengingat perjalanan panjang kota ini dari Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, hingga menjadi Jakarta modern seperti sekarang.
BERITA TERKAIT: