Dalam khutbahnya, Ustaz Usman Badrun, M.Ag mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momentum perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar ibadah musiman.
Ia menekankan bahwa pelajaran pertama dari Ramadan adalah menjauhi harta haram. Selama sebulan penuh umat Islam dilatih menahan diri, sehingga tidak ada alasan untuk kembali kepada yang diharamkan. Menurutnya, kehancuran banyak umat di masa lalu berawal dari kezaliman dan praktik yang tidak halal.
Pelajaran kedua adalah kemampuan mengendalikan hawa nafsu. Ramadan membuktikan bahwa manusia mampu menahan keinginan, sehingga tidak sepantasnya setelahnya kembali mengikuti hawa nafsu tanpa kendali. Ia mengingatkan bahwa kehidupan yang hanya menuruti nafsu akan menyeret manusia pada kerusakan moral.
Selanjutnya, pelajaran ketiga adalah menundukkan godaan setan. Selama Ramadan, suasana ibadah terasa lebih hidup, masjid ramai, dan lantunan Al Quran terdengar di berbagai tempat. Hal ini menunjukkan bahwa kedekatan kepada Allah membuat godaan setan melemah.
“Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia,” tegasnya, mengingatkan jamaah agar tidak lengah setelah Ramadan berakhir.
Ia juga menyinggung pentingnya menjaga semangat ibadah seperti saat Ramadan. Kebiasaan baik seperti salat berjamaah, membaca Al Quran, dan bersedekah harus tetap dilanjutkan sebagai bagian dari bukti ketakwaan.
Pelajaran terakhir adalah menjauhi dosa dan mengisi waktu dengan hal yang bermanfaat. Setiap langkah kehidupan, kata dia, seharusnya bernilai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Khutbah ditutup dengan harapan agar seluruh amal ibadah Ramadan diterima Allah SWT, serta jamaah dapat kembali kepada fitrah sebagai pribadi yang lebih baik dan bertakwa.
BERITA TERKAIT: