Mengenal Sejarah dan Makna Tradisi Munggahan di Tanah Sunda

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/ananda-gabriel-5'>ANANDA GABRIEL</a>
OLEH: ANANDA GABRIEL
  • Selasa, 17 Februari 2026, 09:05 WIB
Mengenal Sejarah dan Makna Tradisi Munggahan di Tanah Sunda
Ilustrasi/Pixabay.
rmol news logo  Bagi masyarakat Jawa Barat dan sekitarnya, aroma kedatangan bulan suci Ramadan tidak hanya ditandai dengan pergantian kalender Hijriah, melainkan melalui sebuah perayaan kultural yang hangat dan sarat nilai spiritual.

Makna tradisi munggahan melampaui sekadar ritual makan bersama keluarga besar; ia adalah manifestasi kegembiraan kolektif dalam menyambut bulan penuh ampunan.

Sebagai salah satu adat Sunda sebelum puasa yang paling ikonik dan bertahan melintasi zaman, munggahan berfungsi sebagai jembatan transisi dari kehidupan duniawi sehari-hari menuju fase ibadah yang lebih intens dan khusyuk.

Secara fundamental, munggahan adalah momen introspeksi komunal, di mana setiap individu mempersiapkan jiwa dan raga untuk "naik kelas" secara spiritual sebelum gerbang Ramadan dibuka.

Akar Etimologis

Untuk memahami kedalaman tradisi ini, kita perlu menelusuri akar etimologis dan sejarahnya yang panjang. Kata "Munggahan" sendiri berasal dari Bahasa Sunda, yakni unggah, yang secara harfiah berarti naik atau mendaki ke tempat yang lebih tinggi.

Secara historis dan terminologis, istilah ini menyimbolkan sebuah transisi perpindahan dari bulan Sya'ban yang biasa menuju bulan Ramadan yang derajatnya lebih tinggi dan mulia.

Meskipun sejarah munggahan tidak tercatat secara spesifik dalam satu tanggal kalender masehi yang pasti, tradisi ini diyakini telah mengakar kuat seiring dengan proses penyebaran Islam di tanah Pasundan.

Para ulama dan penyebar agama terdahulu menggunakan pendekatan kultural ini untuk menanamkan pemahaman kepada masyarakat bahwa Ramadan adalah bulan istimewa yang memerlukan persiapan khusus, bukan sekadar bulan yang dimasuki tanpa bekal mental yang memadai.

Tujuan Tradisi

Lebih jauh lagi, tujuan tradisi munggahan sejatinya tidak terletak pada seberapa mewah hidangan yang disajikan di atas meja, melainkan pada esensi kesiapan mental dan kebersihan hati.

Filosofi munggahan mengajarkan bahwa sebelum seorang Muslim menjalankan ibadah puasa, ia harus terlebih dahulu membersihkan diri dari segala residu negatif seperti dendam, sengketa, dan penyakit hati lainnya.

Aspek penyucian ini sering kali dimanifestasikan melalui kegiatan saling bermaaf-maafan antar anggota keluarga, tetangga, hingga kerabat jauh.

Dalam konteks sosial-religius, momen ini adalah upaya nyata untuk mengembalikan hubungan horizontal antarmanusia (Hablum Minannas) ke titik nol, sehingga hubungan vertikal dengan Tuhan (Hablum Minallah) saat berpuasa nanti tidak terganggu oleh beban dosa sosial yang belum tuntas.

Rangkaian Kegiatan

Rangkaian kegiatan dalam tradisi ini juga mencakup pembersihan fisik dan spiritual yang saling berkaitan.

Sebagian masyarakat tradisional masih melestarikan kebiasaan beberesih atau mandi keramas di sumber mata air, sungai, atau di rumah masing-masing sehari sebelum puasa dimulai.

Ini adalah simbolisasi dari mandi besar atau thaharah untuk memastikan raga dalam keadaan suci saat hilal Ramadan terlihat.

Aktivitas fisik ini kemudian disempurnakan dengan nyekar atau ziarah kubur ke makam leluhur dan orang tua. Ziarah ini bukan sekadar ritual, melainkan pengingat eksistensial bagi yang masih hidup akan kematian, yang pada gilirannya mendorong kekhusyukan yang lebih dalam saat menjalani ibadah di bulan suci.

Puncak dari tradisi ini biasanya ditandai dengan botram atau makan bersama. Entah itu dilakukan dengan duduk lesehan beralaskan daun pisang di alam terbuka atau berkumpul di ruang makan keluarga, kegiatan makan bersama ini memiliki fungsi sosiologis yang kuat sebagai perekat solidaritas.

Makanan yang disantap bersama menjadi media komunikasi non-verbal yang menyatakan kesiapan keluarga atau komunitas untuk memasuki bulan penahan nafsu secara bersama-sama.

Munggahan Kini

Di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup, bentuk perayaan munggahan mungkin mengalami pergeseran, namun esensinya tetap bertahan kuat.

Jika dahulu munggahan dilakukan dengan berkumpul di balai desa, kini generasi milenial dan Gen Z mungkin merayakannya melalui reuni di restoran atau bahkan pertemuan virtual bagi perantau yang terhalang jarak.

Kendati metodenya berubah, urgensi makna tradisi munggahan justru semakin relevan di era digital yang serba cepat dan individualis ini. Tradisi ini menjadi jeda kolektif yang mengingatkan masyarakat modern agar kembali memprioritaskan hubungan keluarga dan spiritualitas.

Sebagai simpulan, munggahan adalah warisan luhur yang mengajarkan kita tentang filosofi "kenaikan" derajat manusia. Ia bukan sekadar pesta pora pralibur puasa, melainkan sebuah mekanisme budaya yang canggih untuk menyucikan hati, mempererat silaturahmi yang renggang, dan mempersiapkan mental baja.

Melestarikan munggahan berarti menjaga keseimbangan antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Dengan memahami filosofinya secara utuh, kita tidak hanya menjalankan adat ini sebagai rutinitas tahunan, tetapi sebagai langkah awal yang penuh kesadaran untuk meraih kemenangan sejati di bulan Ramadan. rmol news logo article
EDITOR: TIFANI

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA