Demikian yang diungkapkan oleh Kepala Bagian Komunikasi, Publikasi, dan Protokol Bapeten, Abdul Qohhar kepada wartawan di lokasi pada Minggu (16/2).
Abdul menjelaskan, pada saat awal ditemukan pada 31 Januari lalu, alat pendeteksi membaca laju paparan di lokasi mencapai 200 microsievert per jam. Padahal ambang batas normalnya adalah 0,03 microsievert.
"Waktu itu digali kedalaman 10 cm, itu sebelum menemukan sumbernya, naik paparannya menjadi 680 microsievert per jam," ungkap Abdul.
Namun setelah sumber ditemukan dan diambil, laju paparan turun menjadi 130 microsievert per jam.
"Karena masih jauh di atas background (ambang batas normal),akhirnya waktu itu dilakukan pengerukan, proses pengambilan tanah dan vegetasi," lanjutnya merujuk pada proses pengerukan yang sudah dimulai pada Rabu (12/2).
Dari hasil pengukuran per Kamis (13/2), diperoleh nilai laju paparan dengan angka 90 microsievert per jam. Kendati sudah menurun secara drastis, namun Abdul mengatakan proses pengerukan tanah masih dilakukan hingga nilai laju paparan kembali normal atau mendekati normal.
"Sampai nanti didapati nilai mendekati normal lagi, 0,03 lah kalau bisa, jadi wilayah ini sudah
clean dan masyarakat bisa beraktifitas normal lagi," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: