Dikatakan oleh Kepala Biro Hukum, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Batan Heru Umbara, pihaknya mengerahkan empat tim yang akan bekerja selama satu jam untuk memindahkan tanah yang telah dikeruk ke dalam drum untuk dibawa ke Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) menggunakan truk tertutup.
"Kelompok pertama tadi sudah bekerja dan menghasilkan 27 drum," ungkap Heru kepada wartawan yang berada di lokasi. Sementara itu, saat ini tim kedua sendiri menghasilkan 12 drum, masing-masing drum bervolume 100 liter.
Pengelompokan kerja sendiri bertujuan untuk membatasi dosis kontaminasi yang diterima para pekerja. Di mana ambang batas normalnya adalah 80 microsievert.
"Dari hasil pengukuran dosis kelompok pertama ternyata hanya kecil, penerimaannya dua sampai 10 microsievert," lanjutnya.
“Untuk kelompok kedua pun penerimaannya lebih kecil, bahkan ada yang hanya nol koma sekian,†ujarnya lagi.
Kendati begitu, setelah melakukan pemindahan tanah terkontaminasi, Heru juga mengungkapkan akan kembali melakukan pemetaan lagi untuk melihat sejauh mana tanah yang terpapar.
"Mungkin nanti kalau masih (ada) paparannya di atas (ambang normal, yaitu 0,03 microsievert), kita akan melanjutkan pengerukan per 10 cm," kata Heri.
"Seperti itu nanti kita angkut lagi, kita mapping lagi, kita lakukan analisis lagi sampai nanti pihak Bapeten menyatakan daerah tersebut sudah aman," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: