Karena mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) secara ilegal dan tidak adanya perpanjangan kontrak, mereka mengalami kesulitan baik dari segi finansial maupun materil.
Seperti Firmansyah, salah satu dari sebanyak 1.095 AMT Pertamina yang dipecat sepihak meninggal dunia pada Desember 2018. Firmansyah meninggal dunia saat bekerja serabutan.
"Karena tidak dapat penghasilan, kita ini kerja serabutan. Apa saja yang penting menghasilkan," ujar Heri salah satu AMT saat ditemui di depan Istana.
Dampak itu dialami para mantan AMT karena ketidakjelasan dari pemerintah dalam memenuhi tuntutan mereka.
"Ini dampaknya bagi mereka yang di-PHK ada yang meninggal, ada yang anaknya putus sekolah," beber Heri.
Itu sebabnya, aksi lanjutan kubur diri dan menginap di depan Istana oleh SP-AMT diharapkan membuat Presiden Joko Widodo tahu dan peduli pada nasib mereka.
[wah]