Aksi di depan Istana sekarang (Selasa, 15/1), merupakan aksi yang kesekian kalinya. Sama dengan aksi-aksi sebelumnya, buruh sopir menggelar aksi kubur diri dan menginap di lokasi aksi.
Ratusan sopir sejak 26 Desember 2018 menginap di Taman Pandang, depan Istana Negara, Jakarta Pusat. Jumlah mereka sekitar 350 orang. Mereka mendirikan tenda seadanya dari terpal, tali dan bambu.
Pagi ini terpantau, puluhan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan kepolisian berjaga-jaga di sekitar tenda mereka.
Turunnya Satpol PP membuat massa SP-AMT sedikit heran. Hal itu disampaikan Jenderal Lapangan aksi Aris Wuyono.
"Ini baru pertama petugas Satpol PP turun tangan. Alasannya kami tidak tahu, mana orang kita sudah sering menginap," ujar Aris Wuyono ditemui di depan Taman Pandang.
Adapun alasan mereka menginap karena belum mendapat keadilan yang setara dimana sejak 19 bulan lalu mereka di PHK. Tragisnya, mereka diberhentikan hanya melalui pesan singkat SMS. Dengan begitu, mereka nekat terus memperjuangkan hingga menginap di depan Istana agar suara mereka didengar oleh Presiden Jokowi.
Aksi SP-AMT menyuarakan empat tuntutan:
Pertama, bayarkan upah lembur yang belum dibayarkan sesuai nota sudinaker dan Kementerian Ketenagakerjaan dan upah proses selama di-PHK.
Kedua, pekerjakan kembali 1.095 AMT yang di-PHK massal dan secara sepihak.
Ketiga, angkat kami sebagai karyawan tetap di PT. Pertamina Patra Niaga dan PT. Elnusa Petrofin, sesuai dengan nota sudinaker yang sudah disahkan oleh pengadilan; dan
keempat, bayarkan hak pensiun bagi pekerja yang lanjut usia sesuai perundang undangan yang berlaku.
[rus]
BERITA TERKAIT: