Wakil Ketum Partai Gerindra Ferry Juliantono mengatakan, fondasi ekonomi bangsa memang menghawatirkan. Salah satu indikatornya nilai tukar rupiah yang kian terpuruk yakni mencapai lebih dari Rp 14.600 per dolar AS atau mendekati angka Rp 15 ribu seperti pada era Soeharto.
"Gejolak krisis ekonomi ditandai dengan melonjaknya nilai tukar rupiah. Sudah mulai mendekati 15 ribu," katanya dalam acara Ngopi Ngerumpi bertajuk 'Republik di Ambang Kebangkrutan dan Bahaya Disintegrasi. Mahasiswa, Pemuda, dan Rakyat Dimana?' di Jalan Veteran 1, Jakarta, Selasa (14/8).
Menurut Ferry, pihak Istana selalu mengaitkan kritikan dengan isu Pilpres 2019. Padahal sebenarnya yang diungkapkan adalah situasi ekonomi yang tengah terjadi. Pemerintah pun selalu berkilah dengan mengatakan kondisi ekonomi saat ini baik-baik saja.
"Kalau sudah nyaris 15 ribu, kalau tahun 98 juga mendekati 15 ribu menjelang bulan Mei. Pemerintah Soeharto ketika itu juga mengatakan bahwa ekonomi Indonesia dalam keadaan baik, sama seperti sekarang ini. Tapi tiba-tiba jelek begitu (krisis moneter)," jelasnya.
Nilai tukar rupiah yang kian merosot hanya karena faktor eksternal seperti yang diungkapkan pemerintah selama ini juga sama persis yang dilakukan pemerintahan Soeharto yang ketika itu terimbas krisis ekonomi Thailand. Bedanya, kali ini, krisis ekonomi Indonesia bisa saja terjadi dengan yang terjadi di Turki.
"Ada faktor eksternal, sama juga tahun 98 ada faktor eksternal. Bagi Indonesia yang saya anggap berbahaya ini adalah faktor eksternal Turki kemudian sekarang salah urus adalah krisis ekonomi," beber Ferry.
Yang tidak sama, lebih buruk dari krisis ekonomi pada masa menjelang runtuhnya pemerintahan Soeharto, saat ini perekonomian nasional tidak memiliki fondasi kuat.
"Krisis ekonomi 1998 tertolong oleh adanya kondisi UMKM masih sangat baik. Jadi, ketika krismon masih tertahan, tidak hancur. Tapi sekarang UMKM kita sudah hancur. Kalau nanti sekiranya ada krisis ekonomi, benteng perekonomian nasional kita sudah tidak ada lagi. Yang terjadi adalah hancur perekonomian kita sekarang ini," pungkas Ferry.
[wah]
BERITA TERKAIT: