"Hanya diujicobakan 4 trayek doang, dan melibatkan angkot kecil, gimana nggak sepi pemiÂnat mas, gaungnya kurang gitu, apalagi waktu satu karcis juga dibatasi hanya 3 jam" ujar warga Jakarta Timur, Anton.
Seperti diketahui, sejak diÂluncurkan pertengahan Januari lalu, baru ada empat trayek yang sudah diujicobakan program OK-Otrip. Sementara armada bus yang beroperasi masih sekiÂtar 90 unit bus kecil.
Puluhan unit bus kecil itu beÂrasal dari dua koperasi angkutan kota (angkot) yakni Koperasi Wahana Kalpika dan Koperasi Budi Luhur.
Jika tak ada aral melintang, Pemprov DKI menargetkan, pada 2020, akan ada 93 trayek program OK-Otrip dengan 8.187 armada unit bus kecil yang terÂintegrasi dengan Transjakarta.
Wakil Kepala Dinas PerÂhubungan DKI Jakarta Sigit Wijatmoko mengungkapkan, perpanjangan masa uji coba berhubungan dengan sistem pembayaran. Bank Indonesia (BI) masih mengevaluasi sistem pembayaran OK Otrip.
Peraturan Gubernur BI tentang penggunaan electronic fare collecÂtion masih dalam proses proof of concept (POC). Hingga saat ini, Sigit belum mengetahui kapan proses di BI itu akan selesai.
Sampai sekarang, lanjutnya, BI belum bisa memberikan rekomendasi terkait dengan program ini karena POC nya masih berjalan.
"Makanya hasil evaluasi di BI pun agar diperpanjang. KarÂena semua yang terkait dengan mekanisme sistem pembayaran harus mendapat izin dari BI," kata Sigit di Balaikota Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan.
Selain itu, Sigit menuturkan, pihaknya masih berfokus untuk mengintegrasikan beberapa trayek angkot dengan PT TransÂportasi Jakarta (Transjakarta). Dia menargetkan akan ada enam koridor yang memberlakukan OK Otrip.
"Kami targetkan enam koridor yang diujicobakan, tetapi, kan bertahap, yang penting apa yang kami inginkan adalah one man one ticket," ujar Sigit.
Supaya pada mau bergabung, lanjutnya, salah satu solusi yang ditawarkan Pemprov DKI Jakarta adalah dengan skema beli putus. Artinya, pemilik kenÂdaraan dapat menginvestasikan modalnya kembali pada trayek kosong, seperti angkutan bus sedang saat ini.
Dengan skema ini, dia berÂharap target bus kecil terintegraÂsi dengan Transjakarta sebanyak 30 trayek dengan 2.687 unit arÂmada dapat tercapai pada tahun ini. Jumlah ini dapat menampu 400 ribu penumpang per hari.
Sementara itu, PT TransjaÂkarta mengklaim, sejak dijual 14 Desember 2017 hingga 29 Maret 2018, sekitar 13.976 Kartu OK-OTrip terjual kepada masyarakat.
Direktur Utama PT TransjaÂkarta Budi Kaliwono mengungÂkapkan, Kartu OK-OTrip itu daÂpat digunakan di sebanyak 244 halte yang terdapat di sepanjang 13 koridor Bus Transjakarta. "Jadi, dengan menggunakan Kartu OK-OTrip, nantinya warÂga bisa menggunakan lebih dari satu moda transportasi masal, bukan hanya terbatas untuk bus Transjakarta saja," kata Budi.
Selain itu, Kartu OK-OTrip yang dijual seharga Rp 40.000 dengan isi saldo sebesar Rp 20.000 ini juga dapat digunakan untuk moda transportasi kereta commuter line. "Jadi memang ini program transportasi yang saling terintegrasi. Program tersebut mengintegrasikan antara rute transportasi masal, manajeÂmen sekaligus pembayarannya," tandasnya. ***
BERITA TERKAIT: