Penyerapan Anggaran Baru Capai 8 Persen

Ada Kecenderungan Semua Program Ditunda

Kamis, 29 Maret 2018, 11:01 WIB
Penyerapan Anggaran Baru Capai 8 Persen
Foto/Net
rmol news logo Serapan anggaran APBD 2018 DKI Jakarta baru tercapai 8 persen. Padahal, serapan itu menjadi tolok ukur kinerja pemerintah. Untuk itu, Gubernur Anies Baswedan diingatkan segera berbenah dan jangan tersandera utang politik. Anies harus mengedepankan kepentingan publik.

 Pengamat tata kota, Nirwono Yoga mengatakan, ada beberapa hal yang menyebabkan serapan anggaran masih minim pada triwulan pertama tahun ini. Mis­alnya, masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) masih menunggu arahan dan kepastian dari Gubernur soal perombakan jabatan.

"Ada kecenderungan semua program ditunda dulu," katanya.

Selain itu, program-program di APBD 2018 masih menye­suaikan Rancangan Pemerintah Jangka Menengah (RPJMD) yang juga bakal disahkan bulan depan.

"APBD 2018 baru mulai pada tahap penyesuaian dengan pro­gram kerja gubernur baru, draf RPJMD 2017-2022 sebagai lan­dasan kerja juga baru akan disah­kan April mendatang," ujarnya.

Dia menambahkan, lantaran pekerjaan lainnya masih dalam proses administrasi dan belum masuk ke proses lelang.

"Penyerapan anggaran untuk kegiatan ini masih minim sekali karena belum ada pengeluaran biaya," tukasnya.

Sementara anggota Komisi Perekonomian DPRD DKI Ja­karta Yuke Yurike mengatakan, belanja pemerintah masih men­jadi andalan untuk menggera­kan perekonomian di Jakarta. Seharusnya, dengan pengesa­han APBD yang tepat waktu diimbangi dengan penyerapan yang baik.

Anies, lanjutnya, pernah mengkritik penyerapan APBD itu harus terbagi merata selama 12 bulan. Dengan besaran APBD Rp 77 triliun, seharusnya setiap bulan terserap Rp 6,4 triliun. Artinya, pada bulan ketiga ini pe­nyerapan harus mencapai Rp 19,2 triliun atau sekitar 25 persen.

"Tapi faktanya penyerapan masih 8 persen. Itu pun saya yakini hanya belanja pegawai yang memang rutin. Ini artinya belum ada satu pun program pembangunan yang jalan. Se­jauh ini yang diresmikan ialah proyek warisan dari pemerintah sebelumnya," kata Yuke saat dihubungi, kemarin.

Yuke mengingatkan, masyarakat sudah sangat kritis terhadap pemerintah. Jadi sangat wajar bahwa kepemimpinan saat ini terlalu sibuk mengerjakan kebijakan yang populis dan men­gorbankan kepentingan publik yang lebih penting. Mereka juga menilai, pemprov terlalu sibuk memoles citra demi elektabilitas dan popularitas.

"Seharusnya selama lima tahun ini menjadi periode kerja, bukan lagi periode pemilihan yang membutuhkan pencitraan. Rakyat membutuhkan kinerja bukan popularitas," tegasnya.

Berdasarkan situs publik. bapedadki.net, penyerapan APBD DKI pada triwulan per­tama tahun 2018 baru mencapai 8,1 persen. Terlihat, penyerapan anggaran baru terserap sebesar Rp 5,8 triliun dari total belanja daerah Rp 71,1 triliun.

Belanja daerah dalam APBD DKI dibagi menjadi dua, yaitu belanja langsung dan tidak lang­sung. Untuk belanja langsung, realisasi penyerapan baru men­capai 5,4 persen atau sebesar Rp 2,1 triliun dari total belanja lang­sung sebesar Rp 40,1 triliun.

Sedangkan, realisasi peny­erapan belanja tidak langsung yang tediri dari belanja pegawai, hibah, subsidi dan bantuan sosial dan lainnya baru mencapai Rp 3,6 triliun dari total belanja tidak langsung Rp 30,9 triliun.

Padahal, awal 2018 lalu, San­diaga optimistis penyerapan anggaran APBD DKI 2018 akan mencapai Rp 6 triliun hingga Rp 7 triliun setiap bulannya. Dengan target tersebut, dirinya berharap tiap kuartal, penyera­pan APBD DKI 2018 mencapai Rp 20 triliun. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA