Edo mengaku, dalam waktu sepekan terakhir, dia dan rekan-rekannya bekerja
all out demi mengurai tumpukan sampah yang jadi sorotan media itu.
"Saya juga masuk ke dalam kubangan (sampah), dengan begitu saya tahu kedalaman laut dan sampah yang diambil," jelas Edo, saat berbagi cerita dengan
Kantor Berita Politik RMOL (Jumat, 23/3) di tengah pekerjaan yang dilakukannya.
Dia mengaku bahwa dalam kurun waktu sepekan terakhir, dia dan rekan-rekannya sudah mengerjakan setidaknya 85 ton dari sekitar 100 ton sampah yang menumpuk di kawasan tersebut.
"Kebanyakan dari sampah-sampah tersebut
sih plastik, bekas peralatan rumah tangga," sambung Edo yang mengenakan pakaian khas pembersih sampah Jakarta, orange yang tampak lusuh dan kotor karena terkena sampah dan kubangan.
Membersihkan ratusan ton sampah tersebut bukan perkara yang mudah, Edo pun mengakui bahwa banyak hal tidak menyenangkan yang dia temui selama menjalankan pekerjaannya tersebut.
Tidak jarang dia menemukan serpihan beling atau kaca yang bisa melukai tubuh di antara tumpukan sampah. Bukan hanya itu, hewan-hewan melata seperti ular pun seakan sudah menjadi hal yang biasa ditemui saat membersihkan sampah.
Bukan hanya itu, Edo dan rekan-rekannya juga bahkan bertaruh nyawa dalam melaksanakan pekerjaannya. Bagaimana tidak, tumpukan sampah tersebut bisa saja sewaktu-waktu ambles atau merembes ke dalam kubangan dan membahayakan keselamatan pekerja di atasnya.
Walau begitu, Edo megaku menerima semua resiko yang dihadapi dalam pekerjaannya. Dia pun selalu waspada dalam menjalankan pekerjaannya tersebut.
"Ya, Alhamdullilah sampai sekarang selamat dan masih bisa bekerja" ujar Edo.
Dia berharap bahwa atas kasus penumpukan sampah ini, masyarakat baik di perkotaan maupun dipinggiran bisa lebih peduli pada sampah yang dihasilkan setiap harinya agar tidak terulang kejadian penumpukan sampah semacam ini yang bukan hanya mencemari lingkungan, tapi juga membawa ancaman kesehatan serta membentuk citra yang buruk soal Jakarta.
[mel]
BERITA TERKAIT: